Ternyata Bangun Lumbung Pangan Jokowi Butuh Rp 68 T

News - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
10 July 2020 19:30
Presiden Joko Widodo beserta rombongan meninjau pembangunan peningkatan jaringan reklamasi rawa di Tahai Baru, Kabupaten Pulang Pisau, Kamis (9/7/2020). (Biro Pers Sekretariat Presiden/Laily Rachev)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sakti Wahyu Trenggono buka-bukaan mengenai kebutuhan investasi food estate yang digarap Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Ia menyebut, butuh anggaran sebesar Rp 68 triliun yang harus disiapkan pemerintah di bawah Presiden Jokowi.

Kebutuhan tersebut dipakai untuk menyiapkan food estate, dari rantai produksi hulu sampai ke hilir. Tahun ini pihaknya mulai menyiapkan pembukaan lahan, sehingga tahun depan proses tanam sudah bisa dilakukan.

Targetnya pada 2022 masa panen sudah bisa berlangsung di kawasan lumbung pangan di Kalimantan Tengah (Kalteng). Setelah panen, dia menjelaskan bahwa hasil produksi akan masuk ke industri hilir yang juga tengah disiapkan dalam waktu bersamaan.


"Kita siapkan, terserah kalau nanti swasta mau terlibat boleh. Tapi kalau enggak ya kita siapkan. Itu cuma butuh Rp 68 triliun. Kita procuress kepada pak Presiden, terbitkan bond lokal saja. Toh nanti hasilnya dollar," ujarnya dalam sebuah wawancara khusus bersama CNBC Indonesia, Jumat (10/7/20).

Nilai investasi Rp 67 triliun tersebut merupakan estimasi kebutuhan untuk lahan seluas 1 juta hektare. "Kalau untuk 1 juta hektare itu kira-kira sekitar Rp 68 triliun sampai hilir. 3 tahun 6 bulan balik," ujarnya.

Dia menegaskan, kebutuhan dana ini tidak akan diambil dari APBN ataupun alokasi anggaran Kemenhan. Dia mengaku, opsi pemenuhan pendanaan berasal dari penerbitan surat utang yang bakal diterbitkan Bank Indonesia (BI). Ia optimistis skenario ini bisa berjalan mulus.

"Ya kan masyarakat mau, masa BI nggak mau. Mau dong, masa nggak mau menerbitkan. 4 tahun deh gua bayar pakai bunga, simpel saja. Kita harus begitu, kreatif," katanya.

Adapun lahan prioritas yang tengah disiapkan berlokasi di Kalimantan Tengah (Kalteng). Dia mencatat, sudah terdapat 800 ribu hektare lahan yang potensial dimanfaatkan sebagai food estate.

"Ada 6 Blok. Ada yang 160 ribu hektare, ada yang 200 ribu hektare, ada yang 140 ribu hektare. Totalnya kurang lebih sekitar 800 ribu hektare," paparnya.

Selain itu, dia juga tengah memetakan potensi lahan di daerah-daerah lain seperti Papua, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tenggara. Hanya saja, nantinya masing-masing daerah bakal memiliki komoditas berbeda yang menyesuaikan dengan kebutuhan.

"Kita lihat di Papua, di daerah Merauke. Tapi yang pasti kita akan bergerak ke yang investasinya tidak terlalu besar jadi mungkin misalnya di sana nanti lebih cocok katakan misalnya sorgum, atau di sana lebih cocok misalnya tebu. Ya sudah kita buat gula kan bisa," urainya

Apakah Kalteng dipilih sebagai prioritas karena dekat dengan calon ibu kota negara baru?

"Bukan. Karena lahannya saja. Jadi kayak di Sumatera kita memetakan juga, mana Sumatera yang masih ada. Sumatera sudah padat loh. Di mana kalau nggak ada ya susah. Jadi di Kalimantan Tengah itu masih banyak. Kalimantan Timur juga ada. Lalu di Sulawesi Tenggara ada juga. Nah kita lagi teliti. Terus di Papua masih ada. Itu saja lahannya, yang lainnya sudah sempit. Kalau Sumatera ada kita kejar juga. Kalau dia hutan kan ga bisa. Ini yang hutannya gundul misalkan. Di Bangka ada tapi kecil," beber dia.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading