Jokowi, Sri Mulyani, dan Krisis yang Lebih Ngeri dari 1998

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
10 July 2020 15:32
Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto  meninjau pembangunan peningkatan jaringan reklamasi rawa di Tahai Baru, Kabupaten Pulang Pisau, Kamis (9/7/2020). (Biro Pers Sekretariat Presiden/Laily Rachev)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi covid-19 telah berdampak terhadap kehidupan di Indonesia. Tidak hanya krisis kesehatan, tapi juga krisis ekonomi. Bahkan pemerintah memandang, krisis covid-19 lebih berdampak dari krisis keuangan 1998.

Di sela-sela kunjungannya ke posko penanganan covid-19 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, ekonomi yang rusak bukan hanya dari sisi keuangan saja seperti krisis 1998. Ketersediaan kebutuhan atau supply juga terganggu, karena produktivitas yang terhambat.

Jokowi tidak menampik, seluruh negara termasuk Indonesia tengah berhadapan dengan situasi yang tidak mudah.

"Ekonomi yang rusak bukan hanya sisi keuangan saja seperti krisis 98. Kita ini mengendalikan dua hal yang berbeda. Sisi kesehatan yang sangat penting, sisi ekonomi juga sangat penting."

"Dua-duanya tidak bisa dilepas antara satu dengan yang lain. Prioritas kesehatan, tetapi ekonomi juga harus jalan," katanya," ujarnya Kamis (9/7/2020).

Di mata Jokowi, antara kesehatan dan ekonomi harus beriringan, karena, apabila tidak imbang diantara keduanya, kesejahteraan masyarakat menurun, imunitas juga akan turun, dan pada akhirnya penyakit akan mudah masuk ke tubuh masyarakat.

Oleh karena itu, Jokowi menghimbau kepada seluruh jajaran di pemerintah daerah agar tidak menganggap enteng persoalan covid-19. Seluruh jajaran pemerintah daerah harus memiliki perasaan yang sama dalam menyikapi situasi krisis ini.

"Ini jangan dianggap enteng. Bisa menyebar kemana mana. Oleh sebab itu, kita harus memiliki perasaan yang sama bahwa kita menghadapi krisis yang tidak mudah," tegasnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga berbicara perihal krisis yang terjadi saat ini, yang disampaikan Sri Mulyani dalam peluncuran buku berjudul Terobosan Baru Atas Perlambatan Ekonomi, Sabtu (4/7/2020).

Menteri Keuangan yang juga pernah menjabat di tahun 2005-2010 ini mengakui, sebelum adanya pandemi covid-19, pemerintah tengah sibuk menggencarkan revolusi Industri 4.0. Pemerintah ingin agar keterampilan sumber daya manusia (SDM) bisa ditingkatkan.

Namun lagi-lagi semua kesibukan tersebut dikejutkan dengan munculnya pandemi Covid-19. Praktis, kebijakan fiskal juga mau tak mau mengalami perubahan. Apalagi, situasi pandemi seperti saat ini menurutnya belum ada contohnya di masa sebelumnya. Pun demikian mengenai skema penentuan kebijakan fiskal yang terbaik.

Covid-19 bisa dikatakan extraordinary dan unprecedented [belum pernah terjadi sebelumnya]. Karena presedennya adalah 100 tahun yang lalu. Dan saya enggak tahu kebijakan fiskal 100 tahun yang lalu. Yang jelas Indonesia 100 tahun yang lalu masih dalam penjajahan Belanda,"ujar mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.



Ekonomi Kuartal II-2020 Diramal Minus 5,1%

Saat melakukan rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar DPR) RI mengenai Laporan Semester I dan Prognosis Semester II pelaksanaan APBN 2020, Sri Mulyani bahkan meramal pertumbuhan ekonomi pada kuartal II diproyeksi akan mengalami kontraksi, berkisar -3,% sampai -5,1%, dengan titik tengah -3,8%.

"Dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian kita di tahun 2020 ini adalah pertumbuhan yang merosot," kata Sri Mulyani di Ruang Rapat Banggar, Kamis (9/7/2020).

Menurutnya, pelemahan perekonomian akibat Covid-19 sudah terlihat sejak kuartal I-2020, dimana hanya mampu tumbuh 2,97%. Padahal, tekanan pandemi terlihat di RI baru pada Maret 2020, sehingga kuartal II dipastikan lebih merosot tajam.

Secara keseluruhan, dengan pertumbuhan di kuartal I hanya 2,97% dan pada kuartal II diproyeksi minus hingga 5,1% dengan titik tengah minus 3,8%, maka PDB sepanjang semester I-2020 pasti akan terkontraksi juga.

"Sehingga range semester I range dari pertumbuhan ekonominya adalah antara -1,1% hingga -0,4%," jelasnya.

Ia pun berharap di kuartal III bisa mulai ada perbaikan dengan pertumbuhan ke arah positif. Kuartal III diproyeksi bisa tumbuh positif 1,2% hingga minus 1% dan kuartal IV sepenuhnya positif di kisaran 1,6% hingga 3,2%.

"Kuartal III kita berharap akan terjadi pemulihan. Oleh karena itu nanti proyeksi ekonominya kita masih bisa mencapai range yang mendekati 0 atau bahkan positif yaitu antara -0,4% hingga 1% (full year)," kata Sri Mulyani melanjutkan.



[Gambas:Video CNBC]

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading