Internasional

Bangkrut, Topshop Tutup!

News - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
08 July 2020 16:20
A woman playing with a smartphone is reflected on a window glass at a new Topshop store in central  Hong Kong Wednesday June 5, 2013. The British fashion brand is launching it first store in Hong Kong which will be open to the public on Thursday.  (AP Photo/Kin Cheung) Foto: Topshop di Hong Kong (AP Photo/Kin Cheung)

Jakarta, CNBC Indonesia - Peritel mode asal Inggris Topshop menutup toko terakhir dan terbesarnya di Hong Kong. Ini menambah daftar jajaran merek asing yang kalah bersaing di tengah perlambatan ekonomi akibat virus corona.

Topshop mengatakan bahwa mereka tidak akan memperbarui kontrak sewa toko berlantai dua di Central saat kontrak berakhir pada bulan Oktober. Grup milik miliuner asal Inggris, Sir Philip Green itu mengatakan, mereka telah mengakhiri kemitraannya dengan Lab Concept dan mengubah penjualannya dengan sistem online.



"Hong Kong tetap merupakan pasar penting bagi Topshop Topman, dan kedua merek akan terus melayani kawasan melalui Topshop.com dan Topman.com. Semua staf telah diinformasikan dan akan ditawari peran baru oleh mitra operasi kami, Hong Kong Lab Concept," kata seorang juru bicara perusahaan.

Topshop telah menutup sejumlah toko di seluruh dunia, termasuk Inggris, AS dan Australia. Ritel yang masuk dalam Arcadia Group itu mengalami tantangan dalam beberapa waktu terakhir dan ingin meningkatkan persaingan secara online.

Arcadia Group yang berbasis di London juga menaungi Dorothy Perkins, Outfit, Burton, Evans, Miss Selfridge dan Wallis. Mereka mengajukan kebangkrutan pada April 2019.

Pandemi Covid-19 telah menghantam pengecer streetwear itu di seluruh negara. Penjualan merosot akibat lockdown dan perlambatan ekonomi yang menghambat daya beli.

Inditex, yang menaungi Zara, Zara Home, Bershka, Pull & Bear dan Massimo Dutti, mengatakan bulan lalu bahwa mereka akan menutup hingga 1.200 toko secara global. H&M juga mengatakan sama pada Juni dan akan menutup 170 toko di seluruh dunia.



Sektor ritel Hong Kong telah bertekuk lutut sejak tahun lalu, dimulai dengan aksi protes. Penjualan ritel turun 32,8 persen tahun ke tahun di bulan Mei, yang merupakan bulan ke 16 penurunan berturut-turut. Namun kota ini tetap menjadi salah satu pasar properti termahal di dunia baik untuk komersial maupun perumahan.

Sementara itu, Gap mengatakan akan menutup lima dari delapan toko di kota itu, begitu juga dengan ritel pakaian dalam Victoria's Secret yang menutup toko andalannya bulan lalu. Bahkan pengecer kecantikan Inggris Lush juga menutup toko berlantai lima di Central.

Topshop di Hong Kong membuka tokonya di Central pada tahun 2013, ketika sektor ritel kota berada di puncaknya. Pada tahun 2014, perusahaan membuka dua outlet lagi seluas 6.300 kaki persegi di Queensway Plaza di Admiralty dan ruang seluas 4.700 kaki persegi di Times Square di Causeway Bay.

Namun kini keduanya telah ditutup.




[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mereka yang Terpapar Covid-19, Diberi Uang Rp 9,1 Juta


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading