Demi Pulihkan Ekonomi, BI Guyur Market Rp 615 T dalam 6 Bulan

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
27 June 2020 18:53
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengumumkan hasil rapat dewan gubernur Bulan Juni (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) melaporkan telah melakukan quantitative easing (QE) dengan menginjeksi likuiditas Rp 614,8 triliun ke pasar uang dan perbankan sampai dengan Juni 2020 (year to date).

Realisasi QE yang sebesar Rp 614,8 triliun tersebut sudah meningkat dibandingkan dengan QE yang dilakukan sampai dengan 8 juni 2020, yang tercatat sebesar Rp 605,5 triliun.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan injeksi likuiditas oleh BI tersebut dalam rangka mendorong efektivitas stimulus ekonomi di tengah pandemi virus corona atau covid-19.


"Pemulihan ekonomi akan mendorong konsumsi masyarakat, produksi, dan investasi dunia usaha, baik bagi UMKM dan korporasi," jelas Perry dalam diskusi virtual, Sabtu (27/6/2020).

Perry merinci, QE yang dilakukan BI pada periode Januari-April 2020 sebesar Rp 415,8 triliun yang terdiri dari pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebesar Rp 166,2 triliun, term repo perbankan tercatat Rp 140 triliun, FX swap sebesar Rp 36,6 triliun dan untuk penurunan GWM rupiah sebesar Rp 53 triliun.

Sementara itu, pada periode Mei-Juni 2020, QE yang dilakukan BI telah mencapai sebesr Rp 199 triliun. Terdiri dari penurunan GWM rupiah hingga Mei tercatat sekitar Rp 102 triliun.

Kemudian langkah BI yang tidak mewajibkan tambahan giro bagi yang tidak memenuhi RIM sebesar Rp 15,8 triliun, kemudian term repo perbankan dan fx swap sebesar Rp 81,2 triliun.

BI memastikan, akan terus mencukupi likuiditas di pasar uang dan perbankan dalam mendukung program pemulihan ekonomi nasional, khsusunya dalam rangka restrukturisasi kredit perbankan, yang saat ini ada di bawah tanggung jawab Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Kami tambah likuiditas begitu besar, masalahnya kembali lagi kenapa likuiditas yang kami sudah gelontorkan di perbankan belum mengalir ke sektor rill," tuturnya.

Menurut Perry, untuk mendorong sektor riil memang sebenarnya hanya bisa dilakukan dengan stimulus fiskal. Karena dari sisi kebijakan, BI hanya bisa mendorong ekonomi dari sisi moneter, dengan penurunan suku bunga dan menstabilkan rupiah.

Oleh karena itu, ia menyambut langkah pemerintah untuk melakukan penempatan dana di Perbankan sebesar Rp 30 triliun, menurutnya langkah tersebut bisa mendorong gairah di sektor riil. Dengan demikian, ia menyebut bahwa kecepatan, respon kebijakan, harus juga diseimbangkan dengan akuntabilitas, transparansi dan efektivitas dari implementasi.

"Di samping itu pemerintah melakukan penempatan dana dari pemerintah ke perbankan untuk mendukung sektor riil. Ini jika total dan koordinasi benar-benar dilakukan," tuturnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rupiah ke 14.500/US$, BI: Kami All Out!


(dob/dob)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading