Harga Sawit Anjlok, Penerimaan Negara Menguap Rp 6,2 T

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
25 June 2020 15:14
Pekerja mengangkut hasil panen kelapa Sawit di kebun Cimulang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/3). Badan Pusat Statistik BPS  mengumumkan neraca Perdagangan (Ekspor-impor) Pada bulan Februari, nilai ekspor mencapai US$ 12,53 miliar, atau turun 11,33% dari tahun sebelumnya (YoY). Nilai ekspor minyak sawit sepanjang Januari-Februari 2019 hanya mencapai US$ 2,94 miliar, yang artinya turun 15,06% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) anjlok karena merosotnya harga sawit pada 2019. Pasalnya dana dari BLU menurun signifikan.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan sejak 2015-2019 secara akumulatif mengalami tren pertumbuhan rata-rata 16%.

Febrio merinci, BLU pada 2015 mencapai Rp 35,3 triliun, 2016 sebesar Rp 41,9 triliun, meningkat menjadi Rp 47,3 triliun dan pada 2018 menjadi Rp 55,1 triliun.


Kendati demikian pada 2019, karena harga sawit yang morosot tajam, membuat tidak adanya pungutan dari ekspor kelapa sawit oleh BLU BPDPKS. Sehingga BLU pada 2019 turun Rp 6,2 triliun menjadi Rp 48,9 triliun.

"BLU pada 2019 agak rendah sebab tidak ada pungutan atas ekspor kelapa sawit oleh BLU BDPKS, khususnya memang hara sawit waktu itu lagi rendah-rendahnya. Sehingga sesuai peraturan, di bawah harga treshold tak ada pungutan ekspor dan berdampak cukup besar bagi BLU," kata Febrio di ruang rapat Banggar DPR, Kamis (25/6/2020).

Di tahun ini, karena adanya pandemi covid-19, PNBP dari BLU juga mengalami penurunan, dan outlook pendapatannya kemungkinan hanya bisa mencapai Rp 50 triliun pada tahun ini.

Kebijakan BLU pada tahun depan, kata Febrio pemerintah akan terus meningkatkan kualitas pelayanan yang affordable, sustainable, dan available. Tahun depan, Kemenkeu juga akan meningkatkan pemanfaatan idle fund untuk meningkatkan PNBP dari BLU.

"Melalui investasi kas BLU untuk meningkatkan kualitas layanan," jelas Febrio.

Selain pendapatan BLU yang meningkat, ada juga peningkatan pada jumlah BLU yang tercatat di tahun 2015 sebanyak 158, kemudian tahun 2016 sebanyak 182, tahun 2017 tercatat ada 203, dan tahun 2018 sebesar217 dan 2019 meningkat jadi 236.

Sebagai informasi, dalam APBN Kita periode Mei, realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) lainnya, tercatat sebesar Rp 44,10 triliun atau mengalami pertumbuhan 4,3% dibandingkan periode sebelumnya.

Kemudian, apabila dibandingkan periode yang sama tahu sebelumnya, pendapatan dari BLU mengalami pertumbuhan sebesar 6,29% dengan realisasi sebesar Rp 19,51 triliun dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp 18,36 triliun.

Adapun dalam laporan APBN Kita, disebutkan bahwa kenaikan kinerja pendapatan BLU disumbang dari pendapatan dana perkebunan kelapa sawit, peningkatan jasa layanan kesehatan pada rumah sakit dan pendapatan pengelolaan dana pengembangan pendidikan nasional.


[Gambas:Video CNBC]

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading