Ironi, Kasus Corona RI Melesat 70% Saat Transisi New Normal

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
23 June 2020 17:27
Pemakaman Covid-19 di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia- Sejumlah daerah di Indonesia bersiap memasuki new normal, dan masyarakat mulai kembali beraktivitas. Daerah-daerah yang sebelumnya menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pun mulai melonggarkan, ada juga yang menghentikannya, dan bersiap transisi menuju new normal.

Saat ini Gugus Tugas Percepatan Penangan COVID-19 mencatat hanya dua provinsi dan tiga kabupaten kota yang masih menetapkan PSBB. Untuk DKI Jakarta pun PSBB yang dilakukan saat ini merupakan bentuk transisi untuk memasuki masa new normal yang di mulai pada 5 Juni-2 Juli 2020.

Di masa transisi seperti Jakarta masyarakat hampir bisa berkegiatan normal, karena berbagai pusat perbelanjaan sudah dibuka dan transportasi umum pun mulai diperbanyak. Kondisi jalanan pun sudah mulai macet seperti masa sebelum PSBB dimulai.


Ada juga Jawa Barat yang memutuskan memperpanjang PSBB lima daerahnya hingga 26 Juni dan lima daerah Bodebek mengikuti Jakarta hingga 2 Juli 2020. PSBB Surabaya pun sudah dilonggarkan sejak 9 Juni 2020, dan selesai 22 Juni dan tidak dilanjutkan lagi.

Padahal Surabaya masih termasuk pada zona merah atau yang berisiko tinggi. Kemudian, Gresik, Mojokerto, Pasuran, Sidoarjo, dan Situbondo dan Jombang juga masih zona merah di Jawa Timur.

Kelonggaran ini pun meningkatkan mobilitas masyarakat dan juga jumlah kasus positif COVID-10. Jumlah pasien COVID-19 di Indonesia melonjak hampir 70% dalam 19 hari terakhir. Hingga Selasa (23/06/2020) jumlah kasus positif di Indonesia sebanyak 47.896 kasus, sementara pada Kamis (4/06/2020) jumlah kasus masih 28.818.

Setiap harinya penambahan pasien corona secara nasional bertambah sekitar 1.000 orang per hari, dan Jakarta mencatatkan total kasus tertinggi sebanyak 10.250 orang. Namun, di masa transisi ini dari data Kementerian Kesehatan kasus positif di Jakarta malah bertambah 30% sejak masa PSBB Transisi dimulai, dari 7.690 kasus menjadi 10.250 kasus dalam 19 hari.

Juru Bicara Pemerintah Khusus untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan penambahan pasien postif menandakan masih terjadi penularan di tengah masyarakat dan menggambarkan kepatuhan terhadap protokol kesehatan masih belum optimal. Padahal seharusnya di masa transisi ini masyarakat bisa mulai melakukan kegiatan di luar rumah namun dengan pembatasan dan tetap mematuhi protokol kesehatan.

"Masih ada yang tidak menggunakan masker, menjaga jarak, cuci tangan. Selain itu masih ada kelompok rentan di tengah masyarakat," kata Yurianto belum lama ini.

Selain itu, provinsi kedua dengan penambahan kasus tercepat yakni Jawa Timur yang dalam 19 hari kasusnya naik 80%. Pada 4 Juni 2020, total kasus di Jatim masih 5.408 orang, sementara pada 23 Juni 2020 total kasusnya hampir menembus 10.000 kasus atau sebanyak 10.115 orang, hampir menyalip Jakarta.

Jika dilihat dari masa PSBB Transisi Surabaya pada 9 Juni, lonjakan kasus positif di Jawa Timur mencapai lebih dari 50% hingga hari ini.

Yurianto pun meminta masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan, seperti menjaga jarak, menggunakan masker, dan mencuci tangan setiap hari. Pasalnya meski ada banyak provinsi yang kasus COVID-19 terlihat terkendali, masih ada beberapa provinsi yang cukup tinggi penambahannya.

"Protokol kesehatan adalah kunci untuk mengurangi jumlah infeksi di tengah masyarakat, kita perlu melakukan tracing terhadap kontak erat dan kemudian kita lakukan pemeriksaan," katanya.

Dia menegaskan protokol kesehatan tidak lagi dimaknai sebagai upaya pemerintah mengendalikan COVID-19, tetapi upaya orang per orang agar tidak tertular dan berpartisipasi mengendalikan Corona.

"Tidak harus diancam sanksi dan seharusnya bukan harus karena keterpaksaan," kata Yurianto.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading