Mood Pengusaha Hancur, Gelombang PHK Rasanya Belum Kelar...

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
21 June 2020 18:02
Sales marketing menawarkan produk mobil di Tunas Daihatsu Tebet, Jakarta, Selasa (16/6). Pandemi corona membuat angka penjualan mobil di Indonesia mengalami penurunan drastis. Penjualan mobil bulan lalu anjlok hingga 95 persen bila periode yang sama tahun 2019.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang diperoleh detikOto dari PT Astra International Tbk, pada bulan kelima tahun 2020, industri otomotif hanya mampu mengirim 3.551 unit mobil baru. Angka ini merosot 95 % dibanding bulan Mei 2019, di mana saat itu mencapai 84.109 unit. Angka ini merupakan penjualan berupa wholesales atau distribusi dari pabrik ke dealer. Seperti diketahui, banyak pabrik otomotif di Indonesia yang berhenti produksi sementara di tengah pandemi COVID-19. Wajar jika distribusinya pada Mei 2020 anjlok drastis. Adapun mengatasi penurunan banyak pabrikan otomotif  menawarkan paket penjualan khusus demi mendongkrak penjualan. Rendi selaku supervisor di Tunas Daihatsu Tebet mengatakan

Jakarta, CNBC Indonesia - Mood dunia usaha di Asia berada di titik nadir pada kuartal II-2020. Pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) masih menjadi tantangan utama, yang belum jelas kapan akan berakhir.

Sejak pertengahan 2009, Reuters/INSEAD telah menerbitkan Indeks Sentimen Bisnis Asia (Asian Business Sentiment Index). Indeks ini menggunakan angka 50 sebagai titik mula, di bawah 50 berarti dunia usaha sedang pesimistis.

Pada kuartal II-2020, skor Indeks Sentimen Bisnis Asia berada di 35. Jauh melorot dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 53. Angka 35 juga menjadi yang terendah sejak Indeks Sentimen Bisnis Asia diperkenalkan. Rekor terendah sebelumnya adalah 45, yang terjadi pada kuartal II-2009.


"Kami menjalankan survei saat kondisi menjelang benar-benar memburuk. Oleh karena itu, kita bisa melihat pesimisme terjadi di mana-mana, di seluruh sektor usaha. Sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya," kata Antonio Fatas, Profesor di INSEAD, seperti dikutip dari Reuters.

Survei dilakukan pada 29 Mei-12 Juni. Terdapat 93 perusahaan di Asia yang terlibat dalam survei ini. Dari jumlah responden tersebut, dua pertiga memperkirakan pandemi virus corona yang memburuk adalah tantangan terbesar dalam enam bulan ke depan.

Kemudian sekitar 16% responden menyatakan resesi yang lebih dalam juga berisiko terjadi dalam enam bulan mendatang. Situasi yang gloomy ini membuat lebih dari separuh responden telah dan akan merespons dengan mengurangi jumlah karyawan atau menurunkan produksi.

"Survei ini juga memberi gambaran bahwa proses pemulihan ekonomi sepertinya tidak akan cepat, tidak akan membentuk pola V-Shaped," kata Jerry Ng, Senior Treasury Strategist di HL Bank, seperti diberitakan Reuters.

Kecemasan Akan Gelombang Serangan Kedua Meningkat
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading