Media Australia Soroti Kasus Corona di Indonesia yang Melesat

News - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
19 June 2020 18:36
Sebanyak 150 orang pedagang pasar tradisional menjalani Swab COVID-19 yang dilakukan oleh puskesmas Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat. 17/6/20. CNBC Indonesia/Tri Susilo

Swab COVID-19  dilaksanakan oleh pihak Puskesmas Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat pada Rabu (17/6/2020) mulai pukul 08.00 hingga selesai. Seluruh petugas medis yang melaksanakan Swab test juga dibekali alat pelindung diri (APD) lengkap.

Jakarta, CNBC Indonesia - Media Australia menyebutkan penularan virus corona (Covid-19) di Indonesia terus meluas ketika sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara telah berhasil menekan kasus penularan.

The Sydney Morning Herald, salah satu media terbesar di Australia, Jumat (19/6/2020) menyatakan Indonesia menunjukan tanda-tanda mengambil keputusan yang sulit untuk menekan laju pertambahan kasus virus corona.

Saat ini perhatian dunia fokus pada Amerika Serikat, India, Rusia hingga Brasil yang mencatat angka kasus positif harian sebanyak puluhan ribu. Namun Indonesia saat ini justru keluar dari radar pemantauan.


Dalam kurun 10 hari terakhir, Indonesia mencatat lebih dari 1.000 kasus positif setiap harinya. Dimana hanya ada 2 hari saja yang mencatat kasus di bawah angka tersebut.

Para ahli Epidemiologi mengungkapkan kekhawatirannya jika kasus positif bisa terus bertambah dan bisa melebihi 60 ribu setidaknya untuk dua pekan ke depan. Sebagaimana diketahui, saat ini kasus positif di Indonesia sudah mencapai lebih dari 43.000.

Yang menimbulkan kekhawatiran adalah jumlah tes yang dilakukan sangat rendah. Ditambah dengan angka kematian yang tinggi.

Jika merujuk pada situs Worldometer, salah satu kasus tertinggi terjadi di Rusia yang telah melakukan tes sebanyak 107.445 per 1 juta orang. Sementara Amerika Serikat juga mencatat kasus tertinggi, dengan 80.750 tes per 1 juta orang.

Kemudian Brasil yang juga masuk dalam kategori kasus tinggi melakukan 11.302 tes per 1 juta dan India juga melakukan hal yang sama yaitu 4.530 tes per satu juta orang.

Indonesia berdasarkan situs tersebut, saat ini berada di peringkat 29 dan hanya melakukan 2.193 tes per satu juta orang. Pada Kamis (18/6/2020) tercatat ada penambahan kasus positif sebanyak 1.331 kasus dimana tes dilakukan kepada 10.381 orang. Artinya, tingkat kasus positif hampir 13%.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk terpadat keempat di dunia ini, rumah bagi hampir 270 juta orang, baru-baru ini melakukan tes kepada 10.000 orang per hari. Kapasitas ini sama dengan negara bagian New South Wales (7,5 juta orang) dan Victoria (6,3 juta orang).

Secara resmi, ada 2.339 korban meninggal di Indonesia. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan percaya bahwa lebih banyak orang yang meninggal pada Maret dan April saja. Jakarta merupakan ibukota Indonesia dengan jumlah populasi mencapai 10 juta jiwa.

Terlepas dari tren peningkatan infeksi ini, banyak negara telah mulai melonggarkan pembatasan. Transportasi umum, penerbangan, pusat perbelanjaan, gereja dan masjid semuanya mulai dibuka kembali di kota-kota besar termasuk ibu kota negara, meskipun masih ada penambahan kasus meski melambat.

Bali, pulau wisata yang banyak didatangi untuk berlibur ini mencatat 66 kasus pada hari Kamis, rekor harian baru. Namun pemerintah setempat mengambil langkah untuk menyambut wisatawan yang datang dari Cina, Korea Selatan, Jepang dan Australia.

Keharusan ekonomi untuk menghidupkan kembali pariwisata, ditambah kemerosotan telah menghancurkan mata pencaharian masyarakat. Hal ini yang mendorong gagasan ini untuk membuka kembali perekonomian.

Hal lain yang menjadi perhatian adalah jumlah anak-anak yang meninggal akibat pandemi ini. Laporan Reuters, ada ratusan anak diyakini telah meninggal karena COVID-19.

Angka kematian untuk orang di bawah 18 sebanyak 28 orang. Tetapi ada 380 anak yang meninggal dan diklasifikasikan sebagai PDP, yang artinya mereka menunjukkan gejala virus tetapi belum diuji.

Hampir sejak awal, pemerintah Indonesia telah menangani pandemi ini dengan buruk. Tanggapan pemerintah Indonesia mengerikan, mengingat pada awal pandemi ini, Menteri Kesehatan menyatakan bahwa kekuatan doa akan melindungi Indonesia.

Kemudian Presiden Joko Widodo juga telah mengakui informasi yang telah dirahasiakan dari publik untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Kebijakan penguncian wilayah juga tertunda, hingga larangan keluar wilayah bagi orang-orang yang kembali dari luar negeri. Tingkat pengujian yang buruk dan adanya pelonggaran PSBB membuat jumlah kasus meningkat.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading