Sri Mulyani Akui Mei Jadi Periode Terberat Buat APBN

News - Lidya Julita Sembiring-Kembaren, CNBC Indonesia
16 June 2020 11:15
Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). (Youtube Kemenkeu RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui bahwa pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 menjalani periode terberat pada Mei. Ini terlihat dari penerimaan pajak yang turun dari berbagai sektor ekonomi.

"Pelemahan ekonomi sudah accross the board. Seluruh sektor ekonomi sudah mengalami pelemahan, langsung mengalami kontraksi dalam pada Mei," kata Sri Mulyani dalam keterangan per APBN Kita Edisi Juni 2020.

Sri Mulyani memaparkan penerimaan pajak di sejumlah sektor yang mengalami tekanan sangat berat. Di sektor industri manufaktur/pengolahan, penerimaan pajak pada akhir Mei 2020 adalah Rp 126,14 triliun. Turun 6,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY).


Kemudian di sektor perdagangan, setoran pajaknya adalah Rp 84,91 triliun. Anjlok 12% YoY.

"Perdagangan tahun lalu positif 2,7%, tahun ini kontraksi dalam karena PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar)," ujar Sri Mulyani.

Kemudian penerimaan pajak dari sektor jasa keuangan dan asuransi tercatat Rp 69,36 triliun. Penerimaan pajak dari sektor ini turun 1,6% YoY.

Sedangkan sektor konstruksi dan real estat mengalami penurunan setoran pajak sampai 11% YoY. Ini setara dengan Rp 27,63 triliun.

Lalu sektor pertambangan memberi setoran pajak Rp 18,66 triliun. Pertambangan mengalami kontraksi paling dalam yaitu mencapai 34,9% YoY. "Pertambangan cukup lama tertekan dan tahun ini berlanjut," kata Sri Mulyani.

Terakhir adalah sektor transportasi dan pergudangan yang menyumbang Rp 19,99 triliun ke kas negara dalam bentuk penerimaan pajak. Setoran ini turun 6,4% YoY.

apbnAPBN Kita Edisi Juni 2020

[Gambas:Video CNBC]

(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading