Disebut Rasis & Munafik, AS Geli & Minta China Berkaca!

News - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
07 June 2020 16:12
Sekretaris Negara AS Mike Pompeo berbicara selama konferensi pers dengan Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin Jr di Kantor Departemen Luar Negeri Filipina di Manila, Filipina, Jumat, 1 Maret 2019. (AP / Andrew Harnik, Pool)
Jakarta, CNBC Indonesia- Perseteruan Amerika Serikat dan China semakin memanas. Usai saling melempar kesalahan soal virus corona, kini giliran kasus George Floyd yang jadi bahan kritik dua negara adidaya.

Melansir South China Morning Post, saling serang dua negara ini bermula dari kritikan China ke Amerika soal bagaimana negara itu menangani kasus George Floyd dan demo-demo yang merebak.

Ini seakan jadi momen buat China membalas serangan negara-negara kapitalis barat, terutama Washington, yang terus-terusan menghajar China soal isu demokrasi. Apalagi saat aksi pro demokrasi merebak di Hong Kong tahun lalu.


Saat kasus kematian George Floyd pada 25 Mei lalu dijadikan protes besar karena sikap rasis dan kebrutalan polisi terhadap warganya, pemerintah China pun mulai ramai bersuara. Di antaranya adalah, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian pada 1 Juni, momen ini ia manfaatkan untuk menyudutkan Amerika Serikat dan menyebut mereka sebagai bangsa yang penuh kemunafikan.



Sebab, lanjutnya, rasisme justru mendara daging di negara yang sibuk bersuara soal hak asasi. "Tahunya itu penyakit kronis masyarakat di Amerika," ujarnya.

Menurut Zhao, respons Washington terhadap kematian Floyd di tangan polisi adalah "Contoh buku teks dan penerapan standar ganda yang terkenal di dunia."

"AS sebut aksi di Hong Kong sebagai gerakan perjuangan dan aktivis, tapi mereka menyebut warganya yang protes rasisme sebagai rasisme, bisa gitu?" ujar Zhao.

Diejek habis oleh China, AS menyebut itu merupakan aksi propoganda negeri tirai bambu untuk membenarkan tindakan mereka yang mengabaikan hak asasi manusia selama ini. Negeri ini meminta China untuk refleksi ke diri sendiri. 

"Selama ini sejarahnya negara itu memang diktator dan gak ada kebohongan apapun yang bisa menutupinya, mereka vulgar dan nafsu partainya untuk berkuasa keterlaluan," kata Sekretaris Negara Mike Pompeo dilansir dari South China Morning Post, Minggu (07/06/2020).

AS pun tertawa mendengarkan kritik China, "Propaganda menggelikan ini seharusnya tidak membodohi siapapun," tambahnya.


[Gambas:Video CNBC]







(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading