Internasional

Duh! Takut Ekonomi AS Hancur, Trump Desak Buka Lockdown

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
22 May 2020 11:21
U.S. President Donald Trump speaks during a formal signing ceremony for the U.S.-Japan Trade Agreement at the White House in Washington, October 7, 2019. REUTERS/Kevin Lamarque

Jakarta, CNBC IndonesiaPresiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak pemerintah negara bagian untuk segera melonggarkan aturan pembatasan yang sudah diterapkan negara itu beberapa bulan terakhir untuk membendung penyebaran wabah virus corona (COVID-19).

Hal itu dikarenakan pembatasan telah memberi dampak buruk pada ekonomi, di mana salah satunya membuat angka pengangguran meningkat tajam. Trump juga memperingatkan bahwa perpanjangan pembatasan bisa berarti kehancuran bagi AS.

"Kita telah melakukan hal yang benar tetapi kita sekarang ingin meninggalkannya [penutupan] .... Anda akan menghancurkan negara jika Anda tidak melakukannya," katanya kepada para pemimpin Afrika-Amerika di Michigan, sebagaimana dilaporkan AFP, Jumat (22/5/2020).





Trump juga mengatakan ingin membuka tempat-tempat ibadah dengan segera.

"Orang-orang ingin berada di gereja mereka," kata Trump. "Gereja-gereja itu sangat penting untuk [kesehatan] jiwa negara kita."

AS saat ini masih menjadi negara dengan kasus corona terbanyak di dunia, yaitu memiliki 1.620.902 kasus dengan 96.354 kematian dan 382.169 yang sembuh, menurut Worldometers. Sementara secara global, virus asal Wuhan, China ini telah menginfeksi 5.194.210 orang. Di mana 334.621 orang telah meninggal dan 2.081.504 sembuh.

Menurut CNBC International pada Kamis, akibat COVID-19, angka klaim asuransi pengangguran di AS mencapai 2,44 juta minggu lalu. Sementara jika dihitung untuk kurun waktu sembilan minggu atau sejak AS menerapkan pembatasan, maka angka klaim asuransi pengangguran telah menyentuh sekitar 38,6 juta pekerja.

Rekor tertinggi klaim pengangguran di AS dalam seminggu tercatat pada akhir Maret, di mana angkanya mencapai 6,9 juta.




Sebelumnya pada akhir April, AS telah melaporkan perlambatan paling parah sejak masa Resesi Hebat (Great Recession) dalam produk domestik brutonya (PDB). Di mana pada kuartal pertama tahun ini PDB AS turun 4,8% karena sebagian besar komponen utama yang mendorong aktivitas ekonomi AS mengalami kontraksi pada kuartal tersebut.

"Penurunan PDB kuartal pertama, sebagian, disebabkan oleh tanggapan terhadap penyebaran COVID-19, ketika pemerintah mengeluarkan aturan tinggal di rumah pada bulan Maret.

Hal ini menyebabkan perubahan cepat dalam permintaan, karena bisnis dan sekolah kini dilakukan dari jarak jauh atau ditutup, dan konsumen membatalkan, membatasi, atau mengalihkan pengeluaran mereka," kata Biro Analisis Ekonomi (BEA), lapor Al-Jazeera bulan lalu.

[Gambas:Video CNBC]

(res)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading