Round Up

Duh! Bisnis Rumah Second hingga Mobil Bekas Terjun Bebas

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
22 May 2020 07:23
Suasana Perumahan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Properti (FLPP) di Cibarengkok  Pengasinan, Kec. Gn. Sindur, Bogor, Jawa Barat, Senin (17/2/2020). PT Bank Tabungan Negara (BTN) (Persero) Tbk pada tahun 2020 meningkatkan layanan transaksi digital untuk menggaet calon debitur Kredit Pemilikan Rumah (KPR). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Anjloknya harga rumah secondary di sejumlah wilayah elite di Jakarta, juga ditambah stagnannya harga rumah primary memberi sinyal bahwa pertumbuhan sektor properti sedang menurun. Hingga akhir tahun mendatang, harga properti juga diprediksi masih tidak akan mengalami perbaikan.

"Momentum ini lagi rendah-rendahnya, kelihatannya ngga ada pertumbuhan sampai akhir 2020. Awal tahun 2021 masih konsolidasi, karena belum ada kejelasan hingga kini," kata Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto kepada CNBC Indonesia, Rabu (20/5/2020).

Pada riset yang dikeluarkannya akhir tahun 2019 lalu, ia memang memperkirakan di tahun ini sektor properti tidak akan mengalami pertumbuhan yang signifikan. Namun, setelah memasuki masa pandemi virus corona, proyeksi yang sudah dibuat bisa semakin jeblok.


"Properti itu siklus 2019 sedang menuju bottom. Kita liat sebelum ada COVID-19, sektor ini titik nadirnya di 2020. Akan recovery kemungkinan di akhir 2020-2021, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi membaik. Karena memang siklusnya menuju dasar. Adanya tambahan COVID-19 ini membuat masa recovery lebih panjang, jadi mundur setahun kemudian di 2021," kata Ferry.

Dengan kondisi tersebut, maka bisa dibilang saat ini merupakan waktu yang pas untuk mengincar properti sebagai investasi. Ferry memperkirakan harga properti akan normal dengan membutuhkan waktu beberapa tahun mendatang.


"Memang kemarin kondisi sempat harga tinggi-tinginya, di luar batas normal. Sekarang sebenarnya harga menuju normal, jadi sekarang terkoreksi menuju normal. Dan ada potensi harga itu naik lagi di dua hingga tiga tahun ke depan," ungkapnya.


Penurunan harga rumah mewah bekas kala pandemi COVID-19 di antaranya terjadi di kawasan penyangga. Seperti Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang Selatan.

"Cenderung sekitar 10-15%. Kalaupun ada 20%, itu pun terlalu tinggi. Karena di sini value-nya masih bagus," kata Agen East2West Property Jessica Leonard kepada CNBC Indonesia.

Penyebab penurunan harga rumah bekas di BSD tidak terlalu dalam karena harga rumah di BSD umumnya dimulai dari Rp 1 miliar atau lebih. Berbeda dengan Pondok Indah yang harga termurahnya berada di kisaran Rp 20 miliar, sehingga penurunan pun jauh lebih dalam.

"Transaksi, orang selalu cari harga murah, tinggal investornya kuat apa nggak. Kalau kuat, dia nggak mau kasih jika merugi. Kalau dia nggak kuat, terpaksa dia lepas harga di bawah (rata-rata)," sebutnya.

Selain rumah, jelang Lebaran ini, harga mobil bekas atau second juga jadi sorotan lantaran biasanya melambung karena tingginya permintaan untuk mudik. Namun Lebaran tahun ini tampaknya berbeda karena adanya pandemi virus corona dan pemerintah melarang adanya mudik guna mencegah pandemi.

Penjualan benar-benar anjlok dalam 2-3 bulan terakhir. Harga mobil bekas pun terjun bebas.

"Penurunan lumayan jauh, kita rata-rata minimal jual 30-40 unit per bulan. Sekarang turun jadi cuma tersisa 5% sekitar hanya 1-2 mobil per bulan. Terasa di pertengahan Maret mulai drop," kata pemilik Nava Sukses Motor, Khoirul Fahmi.

Penurunan penjualan tidak lepas dari melemahnya daya beli masyarakat akibat tidak menentunya kondisi pandemi. Juga prioritas yang saat ini lebih mengutamakan kebutuhan pokok.

"Yang nanya-nanya dari kemarin selalu ada, tapi kadang-kadang uangnya ngga cukup. Jadi pasar sebenarnya masih ada pembelinya," sebut Fahmi.

Akibat permintaan yang terus turun, sejumlah mobil harus mengalami penurunan harga yang cukup tajam. Hal itu dilakukan demi tetap menarik minat masyarakat untuk tetap berbelanja.

"Turunnya bisa 30 jutaan, misal Kijang Innova 2015, showroom biasa jual normal Rp 185 juta, sekarang paling showroom menjual di Rp 155 juta. Kemudian Mobilio 2014 lumayan juga, biasa jual Rp 120-125 juta, sekarang paling Rp 95 juta, di bawah Rp 100 juta udah punya Mobilio," paparnya.

Di sisi lain, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno juga menjelaskan dampak corona bagi bisnis pembiayaan (multifinance) atau leasing.

"Jadi ya penyebabnya beberapa perusahaan pembiayaan menyetop landing. Yang namanya memberi pinjaman diberi syarat dan diperketat karena takut berisiko macet bayarnya," ujar Suwandi Wiratno.

Suwandi mengatakan bahwa penjualan mobil kredit bulan lalu hanya 24.000 unit yang umumnya sekitar 80.000 unit. Hal tersebut membuat beberapa perusahaan pembiayaan menghentikan landing.


Dia menyebut uang muka kredit kini dinaikkan menjadi 30% bukan lagi 15 - 20%. Sebab para nasabah dengan uang muka kecil dikhawatirkan memiliki masalah pada pekerjaannya dan tak mampu bayar cicilan.

"Kenapa tinggi, ini diharapkan orang yang serius membeli mobil dan punya modal di depan cukup besar kalau DP kecil dikhawatirkan nasabah masih bekerja tahu-tahu kena masalah dan dirumahkan," papar dia.

[Gambas:Video CNBC]




(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading