Saat Pandemi Corona Ada Pergeseran Penjualan Rokok, Apa Itu?

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
15 May 2020 14:02
FILE - This March 28, 2019 photo shows cigarette butts in an ashtray in New York. On Wednesday, Jan. 8, 2020, researchers reported the largest-ever decline in the U.S. cancer death rate, and they are crediting advances in the treatment of lung tumors. Most lung cancer cases are tied to smoking, and decades of declining smoking rates means lower rates of lung cancer diagnoses and deaths. (AP Photo/Jenny Kane, File)
Jakarta, CNBC Indonesia - Selama masa pandemi virus corona ada pergeseran kebiasaan perokok. Kondisi krisis pandemi corona mendorong orang mencari alternatif rokok yang lebih murah. Namun, dari sisi permintaan malah bagi sektor hulu rokok seperti petani tembakau justru positif apalagi aktivitas orang lebih banyak di rumah karena work from home (WFH).

"Orang kebiasaan itu masih lah. Rokok tetep kaya kebutuhan pokok saja kan. Justru konsumsinnya agak lumayan ini," kata Ketua Umum Asosiasi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo Siswoyo, kepada CNBC Indonesia, Jumat (15/5).

Namun, selama masa bulan Ramadhan, konsumsi lebih banyak bergeser ke malam hari. Dari segi intensitas produksi bisa dibilang tidak banyak berubah, hanya lebih kepada pergeseran pola konsumsi.


"Kalau malam itu konsumsinya kan jauh lebih banyak dari hari-hari biasa, tetap konsumsi jalan terus," ungkap Budidoyo.



Industri ini cukup beruntung dengan perkiraan yang masih akan terus bertahan karena permintaan yang terus jalan. Meski banyak sektor lain yang mulai angkat tangan saat ini, mulai dari industri pariwisata, otomotif dan lainnya. Bahkan diperkirakan banyak yang kolaps pada Juni mendatang. 

Budidoyo mengaku mulai ada perubahan kebiasaan perokok saat ini. Banyak penggunanya yang sudah mulai downgrade kualitas rokok. Penyebabnya adalah harga jual eceran (HJE) yang meningkat sebesar 35%, dampak dari peningkatan cukai rokok sebesar 23% yang ditetapkan pada awal tahun ini.

"Namanya perokok itu kan elastis. Ketika ada kenaikan yang drastis kemarin, orang rokok akan cari alternatif yang taste hampir sama tapi sesuai dengan kantongnya. Artinya siasatnya gitu. Misal kategori Mild, dia cari yang lebih murah. Alternatif perokok gitu. Tapi kalau dia sudah mapan, biasanya ya tetap," paparnya.

Perubahan pola perokok itu dimulai setelah adanya kenaikan cukai. Perkiraan Budidoyo, kenaikan harga kenaikan cukai baru terasa ketika memasuki bulan April. Sementara tiga bulan awal masih menggunakan cukai 2019. Meski pemerintah melakukan relaksasi dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 30/PMK.04/2020 tentang Perubahan Atas PMK Nomor 57/PMK.04/2017 tentang Penundaan Pembayaran Cukai untuk Pengusaha Pabrik atau Importir Barang Kena Cukai yang Melaksanakan Pelunasan dengan Cara Pelekatan Pita Cukai

"Di industri hasil tembakau (IHT) tebus dulu, jadi pajak ngga ngemplang. Pita cukai kan harus beli dulu. Ngga kaya pajak-pajak lain. Makanya kerugiannya bisa sangat terasa, kalau udah tebus cukai dan produksi nggak laku kan. Emang iya itu konsumen yang bayar, tapi pabrikan yang menalangi dulu," sebutnya.

Demi memenuhi permintaan juga, pabrikan tetap harus menjalankan produksinya saat masa pandemi. Salah satu produsen yang terkena dampak adalah Sampoerna. Sebanyak 65 karyawan dari Pabrikan yang berada di Rungkut 2, Surabaya itu positif terinfeksi Covid-19.

"Informasi yang saya terima, mulanya dua karyawan yang terpapar covid-19 itu tapi dia nggak ngomong jujur. Itu lebih ke individu. Virus ini kan sebenarnya kena tembakau mati," sebut Budidoyo.

[Gambas:Video CNBC]




(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading