Awas, Gelombang Kedua Serangan Corona Bisa Lebih Mengerikan!
Tirta Citradi,
CNBC Indonesia
11 May 2020 13:42
Jakarta, CNBC Indonesia - Seiring dengan penurunan jumlah kasus infeksi virus corona (Covid-19) di berbagai belahan dunia, banyak negara mulai dari Amerika Serikat (AS), Eropa, hingga Asia mengendorkan pembatasan sosial. Namun dibalik kembali bergeliatnya aktivitas ekonomi, ada ancaman yang mengerikan dari gelombang kedua wabah.
Sah sudah! Kini lebih dari 4 juta orang yang menghuni planet bumi dinyatakan telah positif terinfeksi Covid-19. Sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan wabah yang diakibatkan oleh virus SARS-CoV-2 ini pada 11 Maret lalu, jumlah kasus terus bertambah dengan signifikan.
Banyak negara-negara seperti AS dan Eropa (Italia, Perancis dan Spanyol) yang paling terpukul oleh pandemi Covi-19 mengikuti langkah ekstrem China untuk menerapkan karantina wilayah (lockdown). Sudah lebih dari sebulan negara-negara Eropa dengan negara lainnya menerapkan pembatasan sosial dengan skala masif.Â
Spanyol, Italia, Perancis dan Jerman telah menunjukkan perkembangan yang baik dari segi pertumbuhan jumlah kasus harian yang terus menurun sejak April lalu. Penurunan kasus baru ini dikaitkan dengan kesuksesan pembatasan sosial yang dilakukan di empat negara tersebut yang merupakan episentrum wabah untuk Zona Euro. Penurunan jumlah kasus juga diikuti oleh negara lain seperti di kawasan Asia.
Lockdown dan pembatasan sosial yang masif telah menimbulkan konsekuensi berupa jatuhnya perekonomian suatu negara. Kebetulan negara-negara G20 yang menyumbang lebih dari 60% penduduk dunia dan lebih dari 70% output perekonomian global adalah negara yang paling terkena dampak dari pandemi Covid-19. Hal ini membuat perekonomian negara anggota G20 luluh lantak pada kuartal pertama 2020.
Mengingat perekonomian sudah sangat terpukul akibat lockdown dan berbagai pembatasan, penurunan jumlah kasus baru menjadi sinyal positif untuk melonggarkan pembatasan. Orang-orang sudah mulai kembali bekerja, toko ritel, salon dan bar sudah mulai dibuka di negara-negara Eropa maupun Asia.Â
Sah sudah! Kini lebih dari 4 juta orang yang menghuni planet bumi dinyatakan telah positif terinfeksi Covid-19. Sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan wabah yang diakibatkan oleh virus SARS-CoV-2 ini pada 11 Maret lalu, jumlah kasus terus bertambah dengan signifikan.
Banyak negara-negara seperti AS dan Eropa (Italia, Perancis dan Spanyol) yang paling terpukul oleh pandemi Covi-19 mengikuti langkah ekstrem China untuk menerapkan karantina wilayah (lockdown). Sudah lebih dari sebulan negara-negara Eropa dengan negara lainnya menerapkan pembatasan sosial dengan skala masif.Â
Spanyol, Italia, Perancis dan Jerman telah menunjukkan perkembangan yang baik dari segi pertumbuhan jumlah kasus harian yang terus menurun sejak April lalu. Penurunan kasus baru ini dikaitkan dengan kesuksesan pembatasan sosial yang dilakukan di empat negara tersebut yang merupakan episentrum wabah untuk Zona Euro. Penurunan jumlah kasus juga diikuti oleh negara lain seperti di kawasan Asia.
Lockdown dan pembatasan sosial yang masif telah menimbulkan konsekuensi berupa jatuhnya perekonomian suatu negara. Kebetulan negara-negara G20 yang menyumbang lebih dari 60% penduduk dunia dan lebih dari 70% output perekonomian global adalah negara yang paling terkena dampak dari pandemi Covid-19. Hal ini membuat perekonomian negara anggota G20 luluh lantak pada kuartal pertama 2020.
Mengingat perekonomian sudah sangat terpukul akibat lockdown dan berbagai pembatasan, penurunan jumlah kasus baru menjadi sinyal positif untuk melonggarkan pembatasan. Orang-orang sudah mulai kembali bekerja, toko ritel, salon dan bar sudah mulai dibuka di negara-negara Eropa maupun Asia.Â
Next Page
Ancaman Gelombang Kedua yang Mengerikan
Sumber : Journal Plos One