Pangan Lain Turun, Harga Bawang Merah Terus 'Ngamuk', Kenapa?

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
06 May 2020 17:47
Kuli panggul mengangkat karung bawang merah di Pasar Kramat jati,  Jakarta Timur, Selasa 7/5. Pedagang Los Eceran dikawasan pasar Kramat jati menjual bawang putih Rp 35.000 per kilogram turun dari harga sebelumnya Rp45.000 karena pasokan bawang putih sudah sedikit stabil. Harga bawang putih yang dijual Eceran seharga Rp50. 000 sampai Rp60. 000. Harga bawang  merah naik sedikit dari Rp 20.000 menjadi Rp 22. 000 harga Los Eceran. Harga Cabe merah turun menjadi Rp 25.000 turun saat kemarin naik Rp 30.000 sampai Rp 40.000.
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga bawang merah terus merangkak naik dan semakin tak terbendung. Adanya isu seputar menipisnya pasokan di pasaran hingga kelangkaan bibit bawang merah jadi pemicu kenaikan harga komoditas ini.

Memasuki hari puasa ke-13, Rabu (6/5/2020) harga bawang merah naik Rp 850 menjadi Rp 50.050/kg secara nasional di pasar tradisional seluruh Provinsi Tanah Air. Sejak 29 April hingga hari ini harga bawang merah naik 9,3%. Jika ditarik ke belakang lagi harga komoditas bawang merah telah naik 19,2% dalam sebulan terakhir.




Terjadinya gagal panen akibat banjir pada Februari lalu dan rusaknya stok disinyalir jadi pemicu menipisnya stok bawang merah di pasaran. Di sisi lain harga bawang merah yang terus melambung juga diwarnai dengan kabar kelangkaan bibit bawang merah di kalangan petani.

Untuk bahan pangan lain yang mengalami kenaikan dalam sepekan terakhir adalah daging ayam ras segar. Pada 29 April lalu satu kilogram daging ayam ras segar dibanderol Rp 28.500.

Kini untuk mendapatkan daging ayam ras segar konsumen harus merogoh kocek lebih dalam karena untuk 1 Kg daging ayam harganya sudah mencapai Rp 29.150, jika mengacu pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional. 

Sementara itu untuk komoditas pangan lainnya seperti beras, bawang putih, cabai rawit, cabai merah hingga minyak goreng cenderung mengalami penurunan dalam sepekan terakhir. 

Jika dilihat lebih jauh, hanya bawang merah dan daging ayam ras segar saja yang mengalami kenaikan harga, sementara harga kebutuhan pokok lainnya lebih banyak yang mengalami penurunan dalam sepekan.

Ada beberapa kemungkinan yang bisa menjelaskan hal ini. Pertama, upaya pemerintah untuk menurunkan harga dengan memberikan stok mulai terlihat. Namun jika melihat ada laporan bahwa stok beberapa komoditas pangan Tanah Air mengalami defisit, bisa jadi alasannya bukan karena stok.

Seperti stok beras ternyata defisit di 7 provinsi.Lalu stok jagung terjadi defisit di 11 provinsi, stok cabai besar defisit di 23 provinsi, stok cabai rawit defisit di 19 provinsi. Stok bawang merah diperkirakan juga defisit di 1 provinsi dan stok telur ayam defisit di 22 provinsi.

Selain itu stok untuk gula pasir juga diperkirakan defisit di 30 provinsi. Lalu stok bawang putih juga diperkirakan defisit di 31 provinsi. Hanya stok untuk minyak goreng yang diperkirakan cukup untuk 34 provinsi.

Memang dalam melakukan kalkulasi kebutuhan dan pasokan harus dilakukan secermat mungkin agar dalam pengambilan kebijakan tidak salah sehingga dapat merugikan petani dan membebani konsumen.

Melihat hal ini jelas pemerintah harus turun tangan ke lapangan untuk benar-benar melakukan kroscek. Apalagi di tengah merebaknya wabah Covid-19 seperti sekarang di mana ada 20 wilayah di Indonesia yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sangat mungkin terjadi kendala di distribusi pasokan. Sekali lagi, lakukan kalkulasi secara cermat, mendetail dan monitor ketat dinamika di lapangan secara berkala.

Alternatif kemungkinan kedua dari kecenderungan melemahnya kebanyakan harga sembako juga bisa jadi indikator ada masalah dengan permintaan. Sangat mungkin permintaan cenderung melambat walau umat Muslim Tanah Air sedang menjalankan puasa karena adanya wabah Covid-19.

Pasalnya wabah yang sudah menjangkiti lebih dari 12 ribu orang di Indonesia ini telah memicu gelombang PHK di dalam negeri. Jika mengacu pada data Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker), per 20 April 2020 jumlah karyawan yang dirumahkan dan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tembus 2 juta orang. Lebih dari 500 ribu orang yang kehilangan pekerjaan berasal dari sektor informal.

Artinya bisa jadi ini indikator dari pelemahan daya beli masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulan April 2020 sebesar 0,08% (mom) dibanding periode sebelumnya dan 2,67% (yoy) dibanding tahun lalu. Pos inflasi inti pada April pun tumbuh melambat 2,85% (yoy).

Hal ini juga dikonfirmasi dari angka Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan April 2020 yang sudah berada di bawah 100. Artinya konsumen sudah tak optimis lagi alias pesimistis terhadap perekonomian. Konsumen akan cenderung menahan uangnya dari pada membelanjakannya, hal ini bisa jadi pemicu pelemahan dari sisi permintaan.





TIM RISET CNBC INDONESIA
(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading