Internasional

Lufthansa Sekarat, Minta Bantuan Pemerintah Jerman Rp 167 T

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
24 April 2020 12:44
An aircraft of German air carrier Lufthansa flies beyond the A-Plus terminal section at the Fraport airport in Frankfurt, Germany September 28, 2012.  REUTERS/Lisi Niesner/File Photo

Jakarta, CNBC IndonesiaMaskapai Jerman Lufthansa berencana untuk merampungkan paket penyelamatan senilai 10 miliar euro atau US$ 10,8 miliar (sekitar RP 167 triliun) minggu depan, kata beberapa sumber yang mengetahui masalah tersebut, Jumat (24/4/2020).

Paket penyelamatan itu bertujuan untuk membuat perusahaan tetap dapat bertahan setelah melaporkan kerugian besar dan penghentian operasi hampir semua pesawatnya akibat wabah virus corona (COVID-19).

"Paket tersebut akan terdiri dari ekuitas dari dana stabilisasi ekonomi baru Jerman (economic stabilisation fund/ESF), pinjaman yang dijamin negara dari Jerman dan utang yang disediakan oleh Austria, Swiss dan Belgia, di mana anak perusahaan Lufthansa berbasis," jelas mereka, menurut Reuters.



Sebelumnya pada Kamis, Lufthansa mengatakan sedang dalam negosiasi intensif dengan pemerintah mengenai berbagai instrumen pembiayaan untuk mengamankan solvabilitas grup tersebut dalam waktu dekat. Pada kesempatan itu Lufthansa juga melaporkan kerugian kuartal pertamanya yang mencapai sebesar 1,2 miliar euro.

Rencana membentuk paket penyelamatan ini sebenarnya sudah pernah disinggung langsung oleh Kepala Eksekutif maskapai, Carsten Spohr. Di mana pada awal bulan ini, Spohr mengatakan bahwa Lufthansa akan mencari bantuan pendanaan negara dari Jerman, Austria, Swiss dan Belgia.

"Saya optimis bahwa pembicaraan di Bern, Berlin, Brussels dan Wina akan menghasilkan hasil yang baik dan positif," kata Spohr dalam pesan video kepada staf yang diposting secara online pada saat itu.

Pada kesempatan itu, Spohr juga membahas cadangan kas atau likuiditas yang dimiliki perusahaan, yang mencapai lebih dari 4 miliar euro (US$ 4,35 miliar). Namun, ia mengatakan bahwa dana itu tidak akan cukup untuk menutupi biaya perusahaan mengingat wabah COVID-19 telah membuatnya rugi sebesar 1 juta euro per jam.

Apalagi menurutnya wabah asal Wuhan, China ini kemungkinan bakal bertahan sangat lama.




"Krisis ini akan memakan waktu lebih lama dari yang kita bayangkan beberapa minggu yang lalu," kata Spohr.

Terkait rincian pinjaman yang akan diberikan Jerman dalam bentuk injeksi ekuitas dari ESF, angkanya kemungkinan bisa mencapai hingga 4 miliar euro. Sebagian atau seluruh dana itu dapat dikonversi menjadi saham di kemudian hari, kata dua sumber.

Mereka juga bisa mendapat pinjaman senilai sekitar 5 miliar euro yang 80%-nya dijamin oleh bank negara Jerman KfW, jelas para sumber. Sementara itu, Austria, Swiss dan Belgia dapat menyokong dana sebesar 1 miliar hingga 1,5 miliar euro, kata mereka.

[Gambas:Video CNBC]


(res/res)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading