Internasional

Trump & Eropa Ragukan China, Corona Muncul dari Lab Wuhan?

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
17 April 2020 09:12
Donald Trump/Kevin Lamarque | Reuters
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) sepertinya mendapatkan dukungan dari organisasi ekonomi antar pemerintah internasional Kelompok Tujuh (G7), untuk menyelidiki detil soal dari mana virus corona berasal.

Setelah konferensi video mengenai transparansi China Daratan atas munculnya pandemi virus corona (COVID-19), G7 secara eksplisit juga mempertanyakan transparansi China.

Sebelumnya, Trump yang sempat meremehkan pandemi ini, mengaku sedang menyelidiki dari mana virus asli berasal. Termasuk apakah yang telah menginfeksi lebih dari 2,1 juta orang sebenarnya berasal dari laboratorium di kota Wuhan, Provinsi Hubei.




Ini didapat dari informasi intelijen AS yang mengindikasikan bahwa ada kemungkinan virus bukan berasal dari alam. "Kami sedang melakukan penyelidikan yang sangat teliti terhadap situasi mengerikan ini," katanya dikutip Reuters kemarin.

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab, yang menggantikan sementara posisi Perdana Menteri Boris Johnson yang terjangkit COVID-19, mengatakan kepada wartawan bahwa tidak mungkin ada "bisnis seperti biasa" dengan China.

"Kita harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit tentang bagaimana itu muncul dan bagaimana virus tidak bisa dihentikan sebelumnya," kata Raab, dikutip dari AFP, Jumat (17/4/2020).

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga memperingatkan untuk tidak "naif" hanya karena percaya China telah menangani wabah dengan baik.

"Jelas ada hal-hal yang terjadi yang tidak kita ketahui," katanya dalam sebuah wawancara dengan Financial Times.

Selain mereka, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo juga mengatakan China seharusnya lebih transparan mengenai laboratorium uji coba milik mereka.

"Kami sedang melakukan penyelidikan penuh atas segala hal yang dapat kami pelajari tentang bagaimana virus ini dapat menyebar, menyebar ke dunia dan sekarang telah menciptakan begitu banyak tragedi, begitu banyak kematian," kata Pompeo kepada Fox News.



Penyakit COVID-19 pertama kali muncul Desember 2019 di Wuhan, China ini disinyalir ditransmisikan ke manusia lewat pasar daging yang membantai hewan-hewan eksotis, termasuk kelelawar.

The Washington Post dan Fox News melaporkan adanya kecurigaan besar jika virus itu bukan berasal dari pasar hewan eksotis, melainkan dari laboratorium sensitif di Wuhan yang mempelajari kelelawar, hewan yang pernah menyebabkan wabah SARS pada 2003 silam.

G7 sendiri terdiri dari negara-negara dengan ekonomi maju. Yakni Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, Inggris, dan Amerika Serikat.

Sementara itu, China membantah tuduhan tersebut. Lewat teleponnya bersama Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping mengatakan jika menyalahkan China atas pandemi ini adalah hal yang tidak menguntungkan.

Menurut kantor berita Xinhua yang dikelola pemerintah China, Xi menyebut upaya untuk mempolitisir pandemi itu "merusak kerjasama internasional". Putin juga ikut mengecam "upaya beberapa orang untuk mencoreng China" atas pandemi ini.

Juru bicara kementerian luar negeri China, Zhao Lijian mengutip Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan mengatakan tidak ada bukti virus itu diproduksi di laboratorium. "Banyak ahli medis terkenal di dunia juga percaya bahwa apa yang disebut hipotesis kebocoran laboratorium tidak memiliki dasar ilmiah," kata Zhao.

Selain menyerang China, Trump sebelumnya melakukan serangan terhadap WHO dengan memotong dana AS untuk organisasi milik Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Trump mengatakan WHO melakukan kesalahan karena mendorong informasi yang salah mengenai virus ini.

Menurut Trump, kesalahan WHO sejak awal adalah menyebut virus tidak menular dan tidak perlu larangan perjalanan. Ia mengkritik keputusan WHO yang menentang pembatasan perjalanan dari China sebagai hal berbahaya.

Sayangnya, tidak semua negara setuju dengan serangan Trump kepada WHO ini. Kanselir Jerman Angela Merkel menyuarakan "dukungan penuh" bagi WHO dalam pembicaraan Kelompok Tujuh.

"Merkel menekankan bahwa pandemi hanya dapat dikalahkan dengan respons internasional yang kuat dan terkoordinasi," kata juru bicaranya, Steffen Seibert.

Hingga kini, virus corona sudah menghasilkan 2.182.058 kasus positif, dengan 145.516 kasus kematian, dan 547.155 kasus berhasil sembuh secara global per Jumat (14/4/2020), menurut data dari Worldometers.

[Gambas:Video CNBC]




(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading