PSBB Jabodebek

Luhut Tanya Anies, Masih Banyak Orang ke DKI: Ini Sebabnya?

News - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
15 April 2020 14:59
Pengunjung mengugunakan transportasi KRL di Stasiun Tujuan Bogor-Jakarta Kota, Kamis,12/3/2020. Paparan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terkait risiko penyebaran virus corona yang menyebabkan Covid-19 via transportasi salah satunya KRL commuterline rute Bogor-Depok-Jakarta Kota berisiko tinggi menjadi area penyebaran virus corona terbesar. Beberapa penumpang juga menggunakan masker guna antisipasi penyebaran virus. Pantauan CNBC Indonesia Penumpang yang telah menumpuk mulai berjalan merangsek mendekati arah datangnya kereta. Jam-jam sibuk kendaraan umum dimana banyak para pekerja yang memulai aktivitasnya sehingga terlihat tidak ada tempat untuk bergerak.   (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan yang juga Menhub ad interim mengaku sempat bertanya kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan perihal mobilitas warga yang masih tinggi dari luar DKI Jakarta di tengah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pertanyaan itu diajukan dalam rangka koordinasi untuk penanganan COVID-19.

"Pak Gubernur DKI Pak Anies bicara sama saya, jadi kami koordinasikan baik- baik saja. Mengenai KRL ini saya bilang Pak Anies Tolong juga dilihat kenapa masih banyak orang yang ke Jakarta," kata Luhut di sela menggelar konferensi video bersama awak media, Selasa (14/4/20/20).

Luhut mengemukakan hal tersebut ketika ditanya perihal tanggapan atas desakan penghentian operasional KRL commuter line selama PSBB. Dua hari pertama pekan ini, jumlah penumpang KRL masih membludak di stasiun. Catatan PT KCI, pada Selasa (14/4/20) hingga pukul 09.00 pagi, ada 62.282 penumpang KRL Jabodetabek, pada Senin (13/4/20) bahkan sampai 75.661 penumpang pada jam yang sama.


Jumlah penumpang KRL yang masih tinggi ini disinyalir terkait dengan masih berlangsungnya aktivitas usaha formal maupun informal di DKI Jakarta, sehingga pekerja dari luar Jakarta masih punya kepentingan menggunakan KRL.

Bagaimana kenyataan di lapangan?

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kadin DKI Jakarta Sarman Simanjorang menjelaskan soal kondisi dunia usaha selama PSBB di Jakarta, dan mulai hari ini di Bogor, Depok, dan Bekasi.

Ia bilang untuk sektor perkantoran, termasuk para tenant atau perusahaan penyewa kantor termasuk pengelola gedung umumnya sudah mengikuti ketentuan PSBB. Artinya mayoritas sudah menerapkan kerja di rumah atau WFH. Namun, kata dia tingginya arus orang ke Jakarta meski sudah berlaku PSBB karena ada beberapa faktor.

Pertama, aktivitas bisnis informal terutama dari para pedagang pakaian yang beberapa hari terakhir membutuhkan stok dagangan untuk persiapan lebaran. Meski pusat-pusat perdagangan seperti Tanah Abang tutup, pelaku usaha informal ini bergerilya di perdagangan online, sehingga butuh datang mengirim stok pakaian.

"Ada aktivitas para karyawan yang melayani secara online, toko mereka memang tutup di pusat perdagangan, tapi stok mereka ada di toko. Ada kemungkinan ada karyawan yang masih masuk," kata Sarman kepada CNBC Indonesia, Rabu (15/4).

Kedua, ada aktivitas pekerja yang bergerak di bidang pengiriman barang, sektor ini memang justru sedang dibutuhkan saat pandemi corona. Sehingga pekerja-pekerja sektor ini sangat mungkin masih menggunakan transportasi umum seperti KRL.

Ketiga, karyawan-karyawan yang di perkantoran atau dunia usaha yang masih diizinkan tetap membuka usaha meski berlaku PSBB. "Sektor-sektor itu cukup besar loh karyawannya, dan tapi bayaknya hanya di jam-jam tertentu, saja seperti pagi hari di KRL,"katanya.

Pemprov DKI memang memberikan pengecualian bagi perkantoran atau bidang usaha tertentu tetap beroperasi selama PSBB yaitu: kantor instansi pemerintah baik pusat maupun daerah, kantor perwakilan diplomatik dan organisasi internasional, dan BUMN-BUMD. 

Juga pelaku usaha yang bergerak pada sektor:

1. kesehatan;
2. bahan pangan/ makanan/ minuman;
3. energi;
4. komunikasi dan teknologi informasi;
5. keuangan;
6. logistik;
7. perhotelan;
8. konstruksi;
9. industri strategis;
10. pelayanan dasar, utilitas publik dan industri yang ditetapkan sebagai objek vital nasional dan objek tertentu; dan/atau
11. kebutuhan sehari-hari.

Keempat, pekerja-pekerja informal seperti ojek online yang tetap beraktivitas meski ada PSBB. Ini karena untuk angkutan barang dan makanan masih diperbolehkan oleh pemda saat PSBB, kecuali angkutan penumpang.
(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading