Internasional

Angka Kematian karena Corona di Jerman Rendah, Kok Bisa?

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
04 April 2020 10:38
Jerman miliki beberapa cara untuk menekan angka kematian akibat virus corona, di antaranya yaitu tes massal dan lockdown.

Jakarta, CNBC Indonesia - Sekitar dua ratusan negara di dunia sedang dibuat pusing oleh wabah virus corona (COVID-19). Sejak muncul di Wuhan, China pada Desember lalu, wabah itu kini telah menginfeksi lebih dari satu juta orang secara global dan menewaskan hampir 60 ribu orang.

Beberapa negara di antaranya telah mencatatkan angka kasus dan kematian yang sangat tinggi, misalnya saja Amerika Serikat (AS) dan China. Di negara yang dipimpin Presiden Donald Trump sudah ada 277.161 kasus corona per Sabtu (4/4/2020), menjadikan AS negara dengan kasus corona terparah di dunia. Dari total itu, sebanyak 7.392 meninggal dunia, menurut Worldometers.

Di China, sementara itu, per hari ini ada 81.639 kasus dengan 3.326 kematian. Ini menjadikan China negara kelima yang melaporkan kasus corona terbanyak di dunia.



Tingginya angka kematian di kedua negara itu bertolak belakang dengan yang terjadi di Jerman. Meski Jerman yang memiliki 91.159 kasus adalah negara keempat di dunia dengan kasus corona terbanyak, tapi angka kematian akibat COVID-19 di negara ini masih terbilang rendah.

Saat ini ada 1.275 kematian akibat corona di Jerman. Angka itu berarti hanya ada sekitar 1% lebih orang yang meninggal di sana akibat corona. Bahkan menurut laporan CNBC International, ini menandakan bahwa tingkat kematian akibat COVID-19 di Jerman masih lebih rendah dibandingkan beberapa negara tetangganya di Eropa, seperti Italia (119.827 kasus; 14.681 meninggal) dan Spanyol (119.199 kasus; 11.198 meninggal).

Lalu, apa yang membuat negara ini berhasil menekan angka kematiannya? Berikut sejumlah faktornya.

Tes massal
Jerman disebut telah melakukan tes massal terkait virus corona terhadap setiap orang yang telah dicurigai terjangkit. Langkah ini berlawanan dengan yang terjadi di Italia atau Inggris, yang memiliki 38.168 kasus dengan 3.605 kematian. Kedua negara ini hanya menguji orang-orang yang memiliki gejala (kasus simptomatik).

Dibandingkan AS, Jerman juga lebih baik dalam hal pengujian. Jerman dilaporkan memiliki kapasitas untuk melakukan hingga 500.000 tes seminggu, sedangkan AS saat ini hanya dapat mengelola lebih dari 10.000 tes sehari.

Faktor usia pasien
Karl Lauterbach, seorang profesor ekonomi kesehatan dan epidemiologi di Universitas Cologne, dan seorang politisi di Partai Sosial Demokrat (SPD) Jerman, mengatakan kepada CNBC International bahwa rendahnya kasus kematian akibat corona di Jerman juga karena faktor usia.

Ia menyebut bahwa orang pertama yang terinfeksi corona di Jerman adalah seorang yang berusia muda sehingga dampaknya tidak separah di Italia, Spanyol atau Prancis, yang dikabarkan banyak memiliki pasien usia lanjut yang rentan terhadap corona.

"Saya pikir sejauh ini kita beruntung karena kita dihantam oleh gelombang infeksi baru lebih lambat daripada banyak negara Eropa lainnya, misalnya Italia, Spanyol dan Prancis," katanya kepada CNBC International, Kamis.

"Jadi kami mengalami penundaan kecil tetapi penting dalam gelombang infeksi yang datang ke Jerman. Kedua, orang pertama yang terinfeksi di Jerman cenderung lebih muda daripada rata-rata populasi ... jadi kami terinfeksi lebih akhir dan dengan pasien yang lebih muda pada awalnya."

Lambatnya penyebaran
Lauterbach mengatakan, faktor ketiga yang membantu Jerman menekan angka kematiannya adalah lambatnya peningkatan jumlah infeksi. Hal ini memungkinkan pasien yang terinfeksi untuk dirawat secara maksimal di lembaga medis top negara, termasuk beberapa rumah sakit universitas terbaik di negara itu, katanya. Beberapa rumah sakit itu termasuk yang ada di Bonn, Dusseldorf, Aachen dan Cologne.

Sistem kesehatan yang baik
Lauterbach menyebut, Jerman juga diuntungkan oleh sistem kesehatannya yang sangat baik.

"Nomor empat, semua hal dipertimbangkan, sistem perawatan kesehatan Jerman dan sistem rumah sakit telah dimodernisasi oleh Demokrat Sosial dan Demokrat Kristen selama 20 tahun terakhir ... secara kasar, ini berarti kami memiliki lebih banyak tempat tidur rumah sakit, lebih banyak ventilator, lebih banyak ruang ICU (Intensif Unit Perawatan) dan lebih banyak dokter rumah sakit daripada negara lain yang sebanding di Eropa ... Jadi sistem kami berada dalam kondisi yang wajar untuk epidemi semacam itu."




Lockdown dan pembasmian virus
Seperti negara-negara Eropa lainnya, Jerman juga memberlakukan penguncian atau lockdown. Pemerintahan Kanselir Angela Merkel ini telah memberlakukan lockdown sejak pertengahan Maret lalu dan telah mengumumkan untuk memperpanjang masa penguncian hingga 19 April.

Negara itu juga berencana untuk melakukan pembasmian besar-besaran pada virus jika kasus mulai menurun setelah lockdown.

"Strategi yang kami ikuti adalah strategi penindasan," kata Lauterbach. "Begitu penindasan telah bekerja dan kasus kita menurun, katakanlah, menjadi beberapa ratus kasus per hari atau bahkan lebih baik, kurang dari seratus kasus, kami akan mencoba untuk menindaklanjuti setiap kasus dan menghubungi semua orang yang telah berhubungan dengan kasus-kasus baru itu, mengkarantina dan mengujinya, dan kami juga kemungkinan akan mengenakan masker di transportasi umum dan di beberapa tempat kerja."

[Gambas:Video CNBC]


(res/res)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading