Duh! Ritel Departemen Store Babak Belur karena Corona

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
01 April 2020 07:25
Aprindo mengakui sektor ritel bidang fashion babak belur
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengakui pembatasan jam operasional hingga penutupan beberapa pusat perbelanjaan di wilayah Jabodetabek membuat sektor ritel bidang fashion babak belur.

Ia menyebut ritel yang paling terkena dampak adalah department store. Karena keputusan buka tidaknya ritel tergantung dari kebijakan pusat perbelanjaan.




Hal ini berbeda dengan ritel minimarket, yang bisa buka kapan saja tanpa tergantung pengelola mal. Selain itu toko swalayan yang menjual kebutuhan pokok justru sedang mengalami masa 'panen' omzet pada masa pandemi corona.

"Peritel modern nggak hanya minimarket tapi ada juga department store. Malnya tutup, department store juga tutup. Sementara banyak tenaga kerja di department store," kata Roy kepada CNBC Indonesia, Selasa (31/3).

Sejak pekan lalu muncul keputusan sejumlah pusat perbelanjaan yang memilih tutup maupun membatasi jam operasional. Di antaranya adalah Senayan City yang tutup dari 23 Maret sampai 5 April 2020 dan Central Park yang memilih membatasi jam operasional dari jam 11.00 sampai pukul 20.00 WIB.

Hal ini dikhawatirkan berimbas pada pendapatan sektor departement store, yang lagi-lagi berimbas pada kemampuan dalam membayar gaji pegawai. Sehingga, Roy mengharapkan ada insentif yang diberikan kepada industri ritel department store.

"Kita berharap ada pengurangan pajak PPh 21. Kan udah ada untuk manufaktur tapi ritel, sektor riil di hilir belum ada. Penangguhan pembayaran pajak pasal 22-25 dan pajak-pajak lain. Pengurangan biaya operasional. Perlu dong supaya industri kita tetap buka dan melayani masyarakat," papar Komisaris Independen PT Matahari Department store Tbk (LPPF) itu.

Terlebih, sektor ritel menjadi industri yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Di sisi lain, industri ini juga menyerap tenaga kerja sehingga masuk ke dalam industri padat karya.

"Kalau nggak dapat stimulus, bisnis ritel modern seperti department store yang rekrut banyak lapangan kerja akan terimbas. Ritel juga kontribusi terbesar buat elemen PDB kita, untuk jaga pertumbuhan ekonomi yang terbesar ya ada di ritel," ungkap Roy.



Contoh nyata adalah pengelola ritel fesyen Grup Lippo, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mengambil sejumlah kebijakan sebagai antisipasi dampak pandemi virus corona (COVID-19) terhadap kinerja perusahaan. Beberapa langkah ekstrim yang diambil yakni menurunkan sejumlah beban perusahaan, termasuk gaji karyawan di seluruh level dengan penurunan terbesar di level senior.

Perusahaan juga membatalkan rekomendasi pembayaran dividen untuk tahun buku 2019. Langkah ini diambil untuk menjaga posisi perusahaan di tengah pandemi COVID-19 yang terus meluas di Tanah Air. 


[Gambas:Video CNBC]




Artikel Selanjutnya

Berdarah-darah, Deretan Ritel Ternama Tutup Toko di 2020


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading