Ini Dia Avigan & Chloroquine, Awas Jangan Sembarangan Minum!

News - Lidya Julita S, CNBC Indonesia
23 March 2020 09:27
Obat yang dimaksud Jokowi adalah Avigan dan Chloroquine.
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan sudah ada resep obat hasil riset dan pengalaman beberapa negara yang bisa diterapkan untuk mengobati pasien corona atau covid-19.

"Obat tersebut akan sampai pada pasien yang membutuhkan melalui dokter keliling dari rumah ke rumah, melalui rumah sakit dan puskesmas di kawasan yang terinfeksi," kata Jokowi.

Ia mengungkapkan obat tersebut sudah dicoba di beberapa negara dan dinyatakan telah berhasil menyembuhkan pasien corona.


"Pemerintah juga telah menyiapkan obat dari hasil riset dan pengalaman beberapa negara untuk bisa mengobati Covid-19," ujarnya.

Obat yang dimaksud Jokowi adalah Avigan dan Chloroquine. Obat yang disebut sendiri termasuk dua jenis obat dalam 4 obat yang telah masuk alam uji klinis internasional yang diumumkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Lalu, apa sebenarnya Avigan dan Chloroquine? Berikut penjelasannya.



Avigan

Avigan merupakan obat favipiravir yang dikembangkan oleh Fujifilm Toyama Chemical. Fujifilm Toyama mengembangkan obat ini pada 2014. Obat itu awalnya digunakan untuk mengobati flu.

Otoritas medis di China mengatakan mereka menguji obat antivirus favipiravir itu pada 340 pasien dan menemukan bahwa obat itu mampu mengurangi waktu pemulihan dan meningkatkan kondisi paru-paru pasien yang terinfeksi COVID-19.

"Sangat aman dan jelas efektif," kata Direktur Pusat Nasional China untuk Pengembangan Bioteknologi, Zhang Xinmin, dalam konferensi pers dikutip dari Nikkei Asian Review, Rabu.

Pasien yang terinfeksi yang diberi obat itu di Wuhan dan Shenzhen juga dites negatif untuk virus setelah rata-rata empat hari, dibandingkan dengan rata-rata 11 hari untuk mereka yang tidak diobati dengan obat itu, lapor NHK, sebagaimana dikutip Guardian.

Para peneliti juga menemukan bahwa kondisi paru-paru membaik pada sekitar 91% dari pasien yang diberi obat, dibandingkan dengan 62% dari mereka yang tidak meminumnya.

Dalam uji coba Wuhan, obat itu juga terlihat memperpendek durasi demam pasien dari rata-rata 4,2 hari menjadi 2,5 hari, menurut Pharmaceutical Technology.

Dokter di Jepang menggunakan obat yang sama dalam studi klinis pada pasien COVID-19 dengan gejala ringan hingga sedang dan sudah diberikan pada pasien positif di Jepang sejak Februari.

Tetapi sumber kementerian kesehatan Jepang menyatakan obat itu tidak efektif pada orang dengan gejala yang lebih parah.

"Kami telah memberi Avigan kepada 70 hingga 80 orang, tetapi tampaknya tidak berfungsi dengan baik ketika virus sudah berlipat ganda," kata sumber itu kepada Mainichi Shimbun.

Pada 2016, pemerintah Jepang memasok favipiravir sebagai bantuan darurat untuk menghadapi wabah virus Ebola di Guinea.



Chloroquine

Klorokuin (chloroquine) fosfat ada dalam kelas obat yang disebut antimalaria dan amebisida, menurut MedlinePlus. Obat ini sudah digunakan untuk mencegah dan mengobati penyakit malaria selama sekitar 70 tahun. Itu juga digunakan untuk mengobati amebiasis atau infeksi parasit Entamoebae histolytica (E. histolytica) di usus.

Obat ini bisa digunakan oleh bayi hingga orang dewasa namun dengan dosis yang berbeda-beda, dan juga biasanya diberikan atas saran dokter.

Baru-baru ini, CEO SpaceX Elon Musk dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggembar-gemborkan bahwa chloroquine mampu membunuh virus corona COVID-19.

Pada akun Twitternya, Elon Musk memberikan pernyataan bahwa obat chloroquine layak dipertimbangkan sebagai pengobatan potensial untuk menangkal virus corona.

Sementara itu Trump mengatakan obat tersebut telah digunakan dan menunjukkan hasil memuaskan. Ia juga menyebut Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS sudah menyetujui penggunaan chloroquine. Bahkan, boleh beredar dengan resep dokter.

"Ini menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan - sangat, sangat menggembirakan. Dan kita akan dapat membuat obat itu tersedia segera," kata Trump dikutip dari CNN International, Jumat.

"Dan di situlah FDA begitu hebat ... itu telah disetujui ... Jadi kita akan dapat membuat obat itu tersedia dengan resep atau negara," katanya. "Biasanya FDA akan membutuhkan waktu lama untuk menyetujui sesuatu seperti itu, dan itu - itu disetujui dengan sangat, sangat cepat dan sekarang disetujui, dengan resep dokter."

Namun demikian, ternyata Chloroquine belum disetujui oleh FDA untuk mengobati COVID-19. Dan, dilansir dari CNN, belum ada obat lain yang bisa mengobati penyakit yang disebabkan virus corona itu.

Ini ditegaskan kembali oleh FDA pasca-pengarahan Trump. "Tidak ada terapi atau obat yang disetujui FDA untuk mengobati, menyembuhkan atau mencegah COVID-19," kata Komisaris FDA Dr Stephen Hahn.

Namun chloroquine memang telah disetujui untuk tujuan lain. Dokter secara hukum diizinkan untuk meresepkannya untuk penggunaan corona yang belum disetujui secara legal jika mau.

"Tetapi keamanan dan keefektifannya belum terbukti sehubungan dengan corona," ujarnya.

Chloroquine masih akan diuji secara klinis dengan pasien corona. Paling tidak untuk pasien dengan gejala ringan-sedang untuk membantu penyembuhan penyakit.

Ia pun mengatakan studi terus dilakukan. Hahn menekankan proses penelitian masih diperlukan meski situasi yang dihadapi kini mendesak.

"Kami juga harus memastikan produk ini efektif, jika tidak, kami berisiko merawat pasien dengan produk yang mungkin tidak berfungsi ketika mereka bisa melakukan perawatan lain yang lebih tepat," kata Hahn.

Sementara itu, Bayer mengumumkan menyumbangkan 3 juta tablet obat chloroquine dengan nama Resochin ke pemerintah. Bayer mengatakan data baru dari perkembangan di China, meski masih terbatas, menunjukkan potensi penggunaan Resochin dalam mengobati pasien corona.

Sementara itu menurut CNet, obat ini memang sepertinya dapat memblokir virus dari mengikat ke sel manusia dan masuk ke dalamnya untuk mereplikasi. Ini juga merangsang sistem kekebalan tubuh.

"Sebuah surat kepada editor di jurnal Nature pada 4 Februari menunjukkan bahwa klorokuin efektif dalam memerangi SARS-CoV-2. Sebuah studi China yang berasal dari Guangdong melaporkan klorokuin meningkatkan hasil pasien dan "mungkin meningkatkan tingkat keberhasilan pengobatan "dan "mempersingkat masa tinggal di rumah sakit." jelas media itu.

Media itu juga mengatakan bahwa korespondensi yang lebih baru dalam jurnal Nature, pada 18 Maret, menunjukkan hydroxychloroquine (turunan yang kurang toksik dari obat) efektif dalam menghambat infeksi SARS-CoV-2.

"Turunan itu tersedia secara luas untuk mengobati penyakit seperti rheumatoid arthritis dan peneliti China sudah melakukan setidaknya tujuh uji klinis menggunakan hydroxychloroquine untuk mengobati infeksi."


[Gambas:Video CNBC]






(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading