Benarkah Virus Corona Bisa Bertahan di Udara?

News - Rahajeng Kusumo, CNBC Indonesia
22 March 2020 11:28
Organisasi Kesehatan Dunia mempertimbangkan melakukan tindakan pencegahan virus corona.
Jakarta, CNBC Indonesia- World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia mempertimbangkan melakukan tindakan pencegahan virus corona atau COVID-19 melalui udara. Langkah ini menindaklanjuti temuan baru yang menunjukkan bahwa virus corona bisa bertahan di udara.

Kepala Unit Penyakit dan Zoonosis WHO Maria Van Kerkhobe mengatakan virus ini ditularkan melalui tetesan atau cairan ketika bersin serta batuk.

"Jika dilakukan prosedur yang menghasilkan aerosol [partikel padat yang ada di udara] seperti di fasilitas perawatan medis, ada kemungkinan aerosolize partikel, yang berarti mereka bisa lebih lama ada di udara," kata Kerkhobe dilansir dari CNBC International, Minggu (22/03/2020).

Untuk itu, dia menekankan pentingnya tenaga medis untuk melakukan pencegahan tambahan ketika mereka pada pasien dan melakukan prosedur tersebut.


Pejabat kesehatan dunia mengatakan penyakit pernapasan menyebar melalui kontak manusia ke manusia, di mana kuman dan percikan melalui bersin serta batuk bisa tertinggal pada benda sekitar.

"Virus corona dapat bergerak di udara, tetap menggantung di udara tergantung pada faktor-faktor seperti panas dan kelembaban," katanya.

Kerkhove mengatakan pada beberapa penelitian, kondisi lingkungan yang berbeda dapat dipertahankan oleh COVID-19. Para ilmuwan secara khusus melihat bagaimana kelembaban, suhu dan pencahayaan ultraviolet mempengaruhi penyakit serta berapa lama dia hidup di permukaan yang berbeda, termasuk baja.

"Sejauh ini..kami yakin bahwa pedoman yang kami miliki sesuai," katanya.

Pejabat kesehatan merekomendasikan staf medis memakai apa yang disebut masker N95 karena masker jenis ini menyaring sekitar 95% dari semua partikel cair atau udara.

"Di fasilitas pelayanan kesehatan, kami memastikan petugas layanan kesehatan menggunakan tindakan pencegahan tetesan standar dengan pengecualian ... bahwa mereka sedang melakukan prosedur penghasil aerosol," katanya.

Di sisi lain, penularan melalui udara dinilai "masuk akal" menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam edisi cetak dalam Jurnal Kedokteran New England yang diulas pekan ini dari para ilmuwan di Universitas Princeton, UCLA dan National Institutes of Health, dikutip Marketwatch.


Para peneliti menyimpulkan bahwa virus itu dapat tetap di udara selama hingga 3 jam pascaaerosolisasi (pada partikel padat yang ada di udara).

Para ilmuwan menemukan bahwa SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan penyakit baru COVID-19, dapat terdeteksi di udara hingga 3-4 jam pada tembaga, hingga 24 jam pada karton, dan hingga 2-3 hari di plastik dan stainless steel. Karena alasan itu, para pejabat di setiap negara merekomendasikan untuk mencuci tangan, membersihkan permukaan, dan "menjaga jarak sosial" di ruang publik.

"Anda perlu menyentuh sekresi [substansi kimiawi dalam bentuk lendir yang dikeluarkan sel tubuh] yang terkontaminasi [virus corona] untuk menjadi terinfeksi, atau berada dalam jarak enam kaki dari orang sakit yang batuk atau bersin," kata Luis Ostrosky, Wakil Ketua Kedokteran Internal di McGovern Medical School di Houston, dikutip Market Watch.



[Gambas:Video CNBC]




(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading