Internasional

Benarkah Vaksin Corona Sudah Ditemukan?

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
06 February 2020 17:14
Apakah corona memang tak ada obatnya?
Jakarta, CNBC Indonesia - Di saat korban tewas akibat virus corona terus berjatuhan dan penyebarannya makin meluas, pertanyaan mengenai adakah vaksin dari virus asal Wuhan, China itu pun bermunculan.

Sebab, virus yang mirip penyebab SARS ini telah membuat geger dunia. Virus 2019-nCoV telah memakan korban jiwa mencapai 565 korban per Kamis (6/2/2020), sejak ditemukan pada Desember lalu.


Penyebarannya sudah mencapai 26 negara sejauh ini dan menjangkiti 28.300 lebih orang di seluruh dunia, menurut data Johns Hopkins University's Center for Systems Science and Engineering.


Bahkan, akibat cepatnya penyebaran virus ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan kasus ini sebagai darurat global pada akhir Januari lalu.

Di tengah berbagai kekhawatiran ini, vaksin menjadi salah satu hal yang paling diharapkan kemunculannya. Namun begitu, hingga kini belum ada pengumuman resmi dari pemerintah China maupun lembaga kesehatan dunia seperti WHO mengenai penemuan vaksin coronavirus baru ini.

Namun yang pasti, hingga saat ini penelitian untuk menemukan vaksin terus dilakukan. Reuters mengabarkan, setidaknya ada belasan perusahaan farmasi yang sedang melakukan penelitian untuk menemukan vaksin atau antivirus dan obat lain untuk menyembuhkan korban terinfeksi.


Salah satu perusahaan farmasi terbaru yang terjun ke penelitian adalah Gilead. Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS) itu disebut telah menjalin kemitraan dengan Rumah Sakit Persahabatan China-Jepang yang ada di Beijing untuk menguji obat antivirus kepada pasien corona di Wuhan.

Obat itu dinamakan remdesivir, sebagaimana dilaporkan Fortune. Menurut laporan Pharma Times, remdesivir awalnya dikembangkan untuk melawan krisis Ebola.

"Meskipun tidak ada data antivirus untuk remdesivir yang menunjukkan aktivitas terhadap 2019-nCoV pada saat ini, data yang tersedia di coronavirus lain memberi kita harapan," jelas Gilead.

"Remdesivir telah menunjukkan aktivitas in vitro dan in vivo dalam model hewan terhadap patogen virus MERS dan SARS, yang merupakan coronavirus yang secara struktural mirip dengan 2019-nCoV. Ada juga data klinis terbatas yang tersedia dari penggunaan darurat remdesivir dalam pengobatan pasien dengan infeksi virus Ebola."

Lebih lanjut, Pharma Times menjelaskan bahwa obat ini telah digunakan sebelumnya pada pasien terjangkit virus corona di AS. Meski begitu, obat ini belum disetujui di mana pun secara global karena belum terbukti aman atau efektif untuk penggunaan apa pun.

"Sebuah publikasi di New England Journal of Medicine (NEJM) mengungkapkan bahwa obat antivirus itu menunjukkan hasil yang menggembirakan ketika diberikan kepada pasien AS pertama yang terinfeksi virus," tulisnya.

Selain Gilead, yang terkenal dengan obat HIV dan hepatitis C-nya, ada sejumlah perusahaan biofarmasi lainnya yang telah melakukan penelitian. Di antaranya adalah Johnson & Johnson, Inovia Pharmaceuticals, Moderna Therapeutics, hingga koalisi lembaga publik yang dipimpin oleh para peneliti dari Baylor's College of Medicine.



(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading