Internasional

Virus Corona: Membunuh Manusia, Menghidupkan Rasisme

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
03 February 2020 12:15
Virus corona yang mematikan memuat sisi lain, di antaranya ketakutan berlebihan pada warga China dan Asia.
Jakarta, CNBC Indonesia - Wabah virus corona terus menjadi topik hangat untuk diperbincangkan belakangan. Sebab, bukan hanya menakutkan karena bisa menyebabkan kematian dan 'menghancurkan' ekonomi suatu negara, virus ini juga bisa memicu kekacauan sosial.

Seperti dilaporkan CNN International, virus corona yang berasal dari Wuhan, China telah memicu lahirnya rasisme. Seiring meningkatnya ketakutan akibat wabah ini, 'rasa takut' terhadap orang China juga meningkat.

Berbagai kelompok masyarakat di banyak belahan dunia bahkan sampai melabeli orang-orang China sebagai sesuatu yang "berbahaya". Mereka dituding "membawa" virus corona.


Salah satu contoh nyata dari sikap rasisme ini terlihat Prancis. Sebuah surat kabar di negeri Eiffel dilaporkan menjadikan tulisan 'Yellow Alert (Peringatan Kuning)' sebagai headline. Tulisan itu diletakkan di samping foto seorang wanita China yang mengenakan masker.

Sementara itu, surat kabar lainnya menuliskan 'New Yellow Peril' di atas sebuah artikel tentang wabah coronavirus yang telah menelan 360 korban jiwa di China dan menjangkiti lebih dari 16.000 orang di seluruh dunia ini, sebagaimana dilaporkan AFP.

Tulisan-tulisan itu pun menuai kemarahan. Banyak pembaca menganggap koran itu menggunakan bahasa yang tidak sopan dan ofensif.

Ini dikarenakan 'Yellow Peril' merupakan ideologi rasis lama terhadap orang Asia Timur di negara-negara Barat. Ungkapan tersebut mencerminkan ketakutan dan stereotip anti-Asia terburuk.

Pada abad ke-19, di Amerika Serikat, ungkapan itu menunjukkan arti bahwa orang China tidak bersih, tidak beradab, tidak bermoral. China juga, saat itu, dianggap sebagai ancaman bagi masyarakat.

Selain itu, rasisme juga hadir di negara-negara lainnya. Banyak orang keturunan Asia yang tinggal di luar negeri mengatakan mereka diperlakukan seperti patogen berjalan.

Seorang jurnalis Inggris-China yang menulis untuk surat kabar Inggris, The Guardian, bahkan mengatakan seorang pria dengan cepat pindah tempat duduk ketika dia duduk di bus.

Seorang pekerja sosial Malaysia-China juga mengalami hal yang sama saat naik bus di London minggu ini.

"Beberapa orang di sekolah London Timur tempat saya bekerja bertanya kepada saya mengapa orang China makan makanan aneh ketika mereka tahu itu menyebabkan virus," katanya kepada CNN.

Di Kanada, anak-anak China dilaporkan diganggu atau dikucilkan di sekolah. Di Selandia Baru, meski tidak ada kasus yang dikonfirmasi, seorang wanita Singapura mengatakan dirinya menghadapi tindakan rasisme di sebuah mal.

Bahkan, rasisme yang dibawa coronavirus tidak hanya terjadi di negara-negara barat. Tapi juga di Asia sendiri, contohnya di Vietnam.

Beberapa restoran di negara Asia ini dikabarkan sampai memasang tanda 'No Chinese' atau yang berarti tidak menerima pelanggan China, di luar restoran dalam seminggu terakhir. Hal serupa juga terjadi di Jepang.

Hal-hal rasisme juga terjadi di dunia maya, di mana banyak orang membuat lelucon rasis. Salah satu contohnya adalah ketika pembawa acara TV James Corden memposting foto dengan BTS, boyband asal Korea Selatan.

Salah satu netizen mengomentari postingan menulis: "BREAKING: James Corden meninggal karena virus corona."

[Gambas:Video CNBC]






(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading