Petani Karet 'Menangis': Harga Jeblok, Serapan Pabrik Rendah

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
20 January 2020 14:54
Harga karet masih belum ada tanda-tanda perbaikan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Petani karet di dalam negeri mengeluh soal anjloknya harga karet. Di sisi lain serapan bahan baku karet untuk industri masih minim. Dari total produksi karet sebanyak 3,55 juta ton di tahun 2019 lalu, serapan dalam negeri hanya mencapai sekitar 600 ribu ton. Selain itu, petani karet sempat dihadapkan dengan persoalan hama jamur.

Harga karet hanya US$ 1,4/Kg atau anjlok dari tahun-tahun sebelumnya. Padahal, berdasarkan catatan Kadin, harga karet pada 2011 mencapai US$ 5/Kg.

Ketua Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) Azis Pane menyebutkan petani banyak yang patah semangat untuk melanjutkan profesinya karena jatuhnya harga karet. Padahal negara Asia Tenggara lain justru meningkatkan produksinya.


"Pesimistisnya petani, ganti pohon karet ke kelapa sawit. Takutnya nanti karet alam di Indonesia goodbye (hilang). Sedangkan Laos, Vietnam, Kamboja kembangkan karet. Suatu kali kita akan impor karet (jika terus seperti ini)," sebut Azis di Menara Kadin, Senin (20/1/2020).

Di sisi lain, pohon karet yang dimiliki petani dari hari ke hari kerap mendapati penyakit. Petani yang hanya mendapat margin keuntungan sedikit dari penjualan karetnya tidak bisa untuk merawat pohon miliknya.

"Ditambah pohon yang semakin tua," sebut Azis.



Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri Johnny Darmawan juga menilai peningkatan serapan terhadap karet perlu ditingkatkan. Karena dengan hanya serapan 600 ribu, yang dimana 450 ribuan berasal dari industri ban terbilang sudah maksimal.

"Harus ada upaya lain untuk meningkatkan ketahanan para petani melalui pemanfaatan karet dan biji karet sebagai bahan baku nabati selain kelapa sawit," sebut Johnny.


[Gambas:Video CNBC]






(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading