Internasional

Ngeri! Trump Ancam Sanksi, Ekonomi Irak Terancam Kolaps

News - Sefti Oktarianisa, CNBC Indonesia
13 January 2020 12:59
Permintaan parlemen Irak agar pasukan asing meninggalkan negara tersebut berujung ancaman sanksi oleh AS.
Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi Irak kini dibayang-bayangi ketakutan. Bagaimana tidak, negara itu terancam merana karena ancaman sanksi yang diberikan Amerika Serikat (AS).

Sanksi itu tak main-main. AS dikabarkan ingin memblokir akses Irak pada akun bank yang berbasis di negara adi daya itu. Padahal Irak menyimpan penerimaan minyaknya yang membiayai 90% dari anggaran nasional di rekening tersebut.


"PMO (Kantor Perdana Menteri) mendapatkan ancaman bahwa jika tentara AS diusir (dari Irak), kami -AS- akan memblokir akun di Federal Reserve Bank di New York," kata salah satu pejabat sebagaimana ditulis AFP, Senin (13/1/2020).


Bank sentral Irak membuat akun di The Fed sejak 2003 lalu. Ini terjadi persis setelah AS menginvasi Irak untuk menjatuhkan Saddam Hussein.

Di bawah Resolusi Dewan Keamanan PBB 1483, semua pendapatan dari penjualan minyak Irak dimasukkan ke rekening The Fed. Irak adalah produsen minyak mentah terbesar kedua OPEC dan lebih dari 90 persen anggaran negara, yang mencapai US$ 112 miliar pada 2019, berasal dari pendapatan minyak.


Menurut pejabat yang dikutip AFP, pendapatan dibayarkan dalam dolar ke dalam rekening The Fed setiap hari. Diperkirakan saldo saat ini sekitar US$ 35 miliar.

Setiap bulannya, Irak mencairkan US$ 1-2 miliar secara tunai untuk pemerintahan. Itu juga digunakan untuk transaksi komersial.

"Kita negara yang memproduksi minyak. Akun tersebut dalam dolar. Memutus akses berarti mematikan keran," kata pejabat Irak.

"Itu berarti kolaps buat Irak," katanya seorang pejabat lagi.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump berjanji akan menjatuhkan sanksi ke Irak, bahkan lebih parah dari sanksi yang berlaku di Iran. Trump mengatakan hal tersebut setelah Parlemen Irak mendesak pemerintah untuk mengusir semua pasukan asing, termasuk AS, yang berada di kedaulatan negara tersebut.

Keputusan parlemen itu terbit 5 Januari lalu. Hal ini menyusul meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, karena pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani, yang menjadikan Irak sebagai lokasi peperangan.

"Kami akan mengenakan sanksi yang mereka bahkan tak pernah lihat sebelumnya," katanya.

[Gambas:Video CNBC]






(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading