Negara Muslim Pakai Emas, Pengamat: 2030, Currency Nggak Laku

News - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
27 December 2019 14:22
Penggunaan mata uang dengan konsep tanpa jaminan emas diprediksi akan ditinggalkan banyak negara di dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Keinginan negara Muslim untuk memakai mata uang yang memiliki jaminan emas sebagai alat pembayaran internasional saat ini tengah jadi pembicaraan global.

Sanksi yang kerap dikenakan AS kepada sejumlah negara seperti Iran dan Qatar menjadi dasar mengapa ide ini muncul.


Lagipula, perdagangan mata uang yang sekarang berlaku dianggap sudah tidak sehat. Pasalnya, mata uang yang sekarang digunakan kerap dimanipulasi sejumlah negara.


Hal ini juga diamini pemrakarsa Modern Monetary Theory (MMT) Mardigu Wowiek . Ia bahkan percaya mata uang kertas yang tak memiliki jaminan emas seperti sekarang akan banyak ditinggalkan negara di dunia.

"Di 2030 mungkin (pengguna) currency tinggal 10 atau mungkin tinggal 20, tidak sebanyak sekarang," katanya kepada CNBC Indonesia dalam acara Power Lunch, Kamis (26/12/2019).

"Nah, itu ada banyak theory yang akan dikedepankan, mulai dari menerbitkan cryptocurrency atau digital money sampai akhirnya satu tahun terakhir ini dunia lebih siap menerima dinar (atau dengan nama lain) sebagai mata uang baru yang berbasis emas."


Ia mengatakan banyak negara sebenarnya jengah dengan konsep mata uang yang berlaku sekarang. Perlu diketahui konsep yang sekarang dipakai, berlaku sejak 1971, saat AS mendeklarasikan akan mencetak dolar tanpa jaminan emas lagi.

Menurutnya, ketika itu terjadi, dunia sebenarnya memang sudah menentang AS. Bahkan, saat itu, China merasa mata uang dolar tidak fair karena mem-print dolar tidak berdasarkan jaminan emas.

Berdasarkan data WorldAtlas.com, dari 195 negara di dunia, sekitar 180 negara memiliki mata uang. Dari keseluruhan, dolar AS merupakan mata uang yang paling banyak digunakan di dunia.

[Gambas:Video CNBC]




(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading