Internasional

Milenial Muslim Ini Penantang Kuat Johnson di Pemilu Inggris

News - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
09 December 2019 13:54
Milenial Muslim Ini Penantang Kuat Johnson di Pemilu Inggris
Jakarta, CNBC Indonesia - Ali Milani, tidak bisa berbahasa Inggris saat pertama kali datang ke Inggris dari tanah kelahirannya Iran. Saat itu ia yang masih berumur 5 tahun.

Namun seiring waktu yang berjalan, kini lelaki 25 tahun itu menjadi lebih dari sekedar warga Inggris. Ia menjadi pesaing Boris Johnson untuk memperebutkan kursi Perdana Menteri Inggris.


Milani menjadi kandidat utama Partai Buruh di konstituen Uxbridge dan Ruislip Selatan di London barat. Ia berupaya menggulingkan dukungan untuk Johnson, yang didukung partai Konservatif.


Milani, yang menyebut dirinya sebagai "kandidat lokal". Ia berkampanye tanpa henti untuk mendapatkan suara sebanyak mungkin dari lawannya.

Milenial Musim Ini Penantang Berat Johnson di Pemilu InggrisFoto: Ali Milani (Dok. Twitter @ARMilani_)


Berbeda dari Johnson yang memang sedari kecil hidup berkecukupan, mengenyam pendidikan di sekolah elit seperti Eton dan menjadi lulusan Universitas Oxford, Milani memiliki hidup yang berbeda.

Ia merupakan menghabiskan hidupnya di rumah sederhana di balik Wembley Stadium, di barat laut London. Ia merupakan lulusan politik dari Universitas Brunel Uxbridge, seorang Muslim yang taat dan mantan tokoh senior di Persatuan Mahasiswa Nasional.

"Secara teori, membalikkan 5000-an mayoritas suara untuk perdana menteri yang saat ini menjabat bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan," kata Milani dalam sebuah artikel, seperti dilansir dari AFP, Senin (9/12/2019).


Tapi gelombang opini berbalik melawan Johnson, yang menganggap konstituennya sebagai penghalang, dan memperlakukan mereka dengan kehinaan.

Milani mengatakan dia melihat suara taktis anti-Johnson dan mobilisasi mahasiswa juga anak muda yang belum pernah terjadi sebelumnya. Yang mendesaknya untuk mengikuti pemilihan agar suara mereka didengar.

Catherina Knox, seorang aktor dan penulis berusia 30-an, mengatakan Milani memiliki sentuhan lokal dan pastinya lebih tertarik pada pemikiran pemilih muda.

"Saya merasa sangat tertekan tentang pemilihan. Saya khawatir tentang Brexit, tentang layanan publik kami, tentang banyak hal," katanya.

"Saya perlu melakukan sesuatu, saya pikir akan menyenangkan untuk mencoba menggeser Boris Johnson di daerah pemilihannya sendiri. Dia (Milani) tampaknya peduli dengan bidang ini, dia berasal dari sini."

Bulan lalu, sebuah jajak pendapat YouGov menempatkan Johnson di depan Milani dengan perbandingan sebesar 50%-37%. Meski demikian, Milani sepertinya masih memiliki harapan.

"Ini selalu menjadi area kemanangan Konservatif. Tetapi kini warga banyak yang kurang senang dengan kebijakan rumah sakit lokal," kata seorang warga bernama Michael Freitas, 42 tahun.

"Ia (Johnson) telah mengabaikan komunitas lokal."

Inggris akan mengadakan Pemilu Nasional , Kamis 12 Desember 2019. Meski dipenuhi euforia Brexit, tetapi banyak juga masalah-masalah lokal dianggap kurang mendapat perhatian.

Di Inggris pemilih tidak memilih perdana menteri langsung. Mereka memilih para anggota majelis (MP) terlebih dahulu untuk mewakili konstitusi lokal mereka.

Pemimpin partai yang mendapatkan 650 konstituen secara otomatis menjadi Perdana Menteri. Artinya partai itu harus memenangkan 326 kursi untuk menjadi pemerintah mayoritas.

Jika tidak ada yang mencapai angka itu, partai dengan kursi terbanyak bisa berkoalisi dengan partai lain yang lebih kecil.

Sebelumnya, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson meminta parlemen menyetujui pemilihan nasional lebih awal pada 12 Desember. Johnson mengatakan itu satu-satunya cara untuk memecahkan kebuntuan Brexit di Inggris.

[Gambas:Video CNBC]



(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading