Internasional

Dokumen Penindasan Muslim Uighur Bocor, China Kecam Media AS

News - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
19 November 2019 15:34
Dokumen Penindasan Muslim Uighur Bocor, China Kecam Media AS
Jakarta, CNBC Indonesia- China mengecam media Amerika Serikat (AS) The New York Times. Kecaman itu disampaikan China terkait artikel soal bocornya dokumen penanganan etnis Uighur dan minoritas Muslim di wilayah Xinjiang.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Geng Shuang menuduh The New York Times mengabaikan alasan sebenarnya dibalik program yang dibuat China. Kebijakan yang diambil hanya untuk mengakhiri kemiskinan, separatisme dan ekstremisme agama.


Ia pun menyebutkan sejak program dilakukan, Xinjiang tidak lagi mengalami serangan teroris dalam tiga tahun terakhir. Menurutnya artikel itu memilah-milah informasi yang seharusnya diberikan secara utuh ke masyarakat.


"Ini menggembar-gemborkan dokumen internal, untuk mencoreng upaya China di Xinjiang. Apa agendanya?" katanya sebagaimana dilansir dari South China Morning Post.

Dokumen Penindasan Etnis Uighur Bocor, China Kecam Media ASFoto: Orang-orang berdemonstrasi menentang China selama Tinjauan Berkala Universal oleh Dewan Hak Asasi Manusia di depan Kantor PBB di Jenewa, Swiss, 6 November 2018 (REUTERS/Denis Balibouse)


Geng Shuang mengatakan, China akan terus melakukan pekerjaan dengan baik. Termasuk menerapkan kebijakan yang bertujuan memperluas pembangunan dan kemakmuran.

Meski demikian Geng Shuang tidak mempertanyakan validitas dokumen yang merinci peran penting yang dimainkan oleh Presiden Xi Jinping itu. Dalam dokumen itu Xi menuntut tindakan lebih keras dan tanpa ampun untuk warga Muslim Uighur di Xinjiang.


Sebelumnya The New York Times melaporkan dokumen setebal 403 halaman yang berisi arahan dan laporan tentang pengawasan dan pengendalian populasi Uighur.

"Dalam pidato tahun 2014 kepada para pejabat yang dibuat setelah gerilyawan dari minoritas Uighur menewaskan 31 orang di sebuah stasiun kereta di China barat daya, Xi menyerukan agar dilakukan perjuangan melawan terorisme, infiltrasi dan separatisme secara habis-habisan menggunakan organ kediktatoran dan tanpa belas kasihan," tulis media ini menjelaskan isi pidato Xi, seperti dikutip kembali oleh AFP.

"Dokumen-dokumen itu dibocorkan oleh anggota yang tidak disebutkan namanya dalam pendirian politik China, yang menyatakan harapan bahwa pengungkapan itu akan mencegah para petinggi, termasuk Xi, lolos dari hukuman karena melakukan penahanan massal."

Sebelumnya, kelompok-kelompok hak asasi manusia dan para ahli dari luar telah mengatakan bahwa ada lebih dari satu juta warga Uighur dan sebagian besar minoritas Muslim lainnya dikumpulkan dalam kamp-kamp di wilayah paling barat China.

Mereka juga mengatakan perlakuan yang dibuat China kepada orang-orang itu tidak manusiawi. Hal ini telah menuai kritik dari berbagai belahan dunia, termasuk dari Amerika Serikat (AS).

China awalnya menyangkal bahwa di negara itu ada kamp-kamp penahanan semacam itu. Namun kemudian mengakuinya dan menyebutnya sebagai sekolah kejuruan yang memberikan pendidikan dan pelatihan kerja untuk meredam isu ekstremisme.

Menanggapi kejadian ini, pakar hubungan etnis di China James Leibold mengatakan bahwa kebocoran dokumen itu menunjukkan kejelasan dalam isu-isu penahanan massal di luar hukum yang dilakukan secara sadar dan sistematis terhadap Muslim di Xinjiang.

[Gambas:Video CNBC]



(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading