Internasional

Mengapa 'Buang Dolar' Kini Dilakukan China?

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
19 November 2019 15:13
Mengapa 'Buang Dolar' Kini Dilakukan China?
Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) telah menjadi mata uang cadangan utama dunia selama beberapa dekade. Menurut lembaga Dana Moneter Internasional (IMF), dolar AS saat ini mencakup 58% dari total mata uang cadangan devisa di dunia dan sekitar 40% dari utang dunia dalam mata uang dolar.

IMF menyebut, total cadangan devisa dunia pada kuartal II-2019 adalah setara dengan US$ 11,73 triliun. Dari jumlah tersebut, US$ 6,79 triliun (57,88%) adalah dolar AS.


Selain itu, dolar dipandang sebagai salah satu aset investasi teraman di dunia (safe haven), dan nilainya cenderung menguat selama masa-masa gejolak ekonomi atau politik.

Terlebih lagi, mengingat posisi AS yang adalah perekonomian terbesar di dunia, pengaruh dolar AS terhadap negara lain tentunya tidaklah kecil. Apalagi, Negeri Paman Sam juga merupakan negara konsumen terbesar di planet ini, yang berarti banyak melakukan transaksi jual beli dengan negara lain untuk memenuhi kebutuhannya.

Bank Dunia mencatat konsumsi AS pada 2017 mencapai US$ 13,32 triliun. Bahkan Uni Eropa yang merupakan gabungan lebih dari 20 negara saja masih kalah.

Oleh karena itu, wajar jika dolar AS adalah mata uang yang paling banyak beredar di dunia dan menjadi mata uang global.

Namun, posisi ini kian terancam, setelah berbagai negara besar di dunia mulai 'membuang' dolar alias melakukan de-dolarisasi, seperti yang diungkapkan Anne Korin, co-director di think tank energi dan keamanan dari Institute for Analysis of Global Security.

"Negara-negara paling berpengaruh (major movers) seperti China, Rusia dan Uni Eropa memiliki motivasi yang kuat untuk melakukan de-dolarisasi," kata Korin beberapa waktu lalu.

Korin menyebut ada berbagai alasan mengapa negara-negara besar membuang dolar. Salah satunya adalah keharusan untuk tunduk pada yurisdiksi AS ketika mereka bertransaksi dalam dolar.

Ketika dolar AS digunakan atau transaksi diselesaikan melalui bank Amerika, maka entitas tunduk harus pada yurisdiksi AS, bahkan meski transaksi itu tidak ada hubungannya dengan AS, kata Korin kepada "Squawk Box" CNBC International.


Dari banyak negara yang melakukan de-dolarisasi, China merupakan salah satu yang paling gencar dalam mengurangi ketergantungan pada dolar. Negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping ini telah melakukan berbagai upaya 'buang' dolar. Contohnya adalah China telah secara diam-diam mendiversifikasi cadangannya ke dalam mata uang lain serta serta membangun "cadangan bayangan" atau shadow reserves.

"Meskipun China masih mengalokasikan porsi yang tinggi dari cadangan valasnya ke dolar AS ... laju diversifikasi ke mata uang lain kemungkinan akan lebih cepat ke depannya," kata analis di ANZ Research dalam sebuah laporan sebagaimana dilansir dari CNBC Internasional.

Cadangan devisa China dalam mata uang asing diperkirakan mencapai sekitar 59% pada Juni. Selain dalam dolar AS, ANZ memprediksikan cadangan itu di antaranya dalam mata uang pound Inggris, yen Jepang, dan euro.

China juga telah berangsur-angsur mengurangi kepemilikannya atas surat utang Treasury AS. Padahal, China adalah pemegang asing terbesar dari Treasurys AS hingga Juni. Negeri Tirai Bambu telah mengurangi kepemilikannya sebesar US$ 88 miliar dalam 14 bulan terakhir, kata DBS dalam sebuah catatan.

Menurut data dari departemen Keuangan AS, China memiliki US$ 1,11 triliun surat utang AS pada Juni.

Pada saat yang sama, China juga telah gencar melakukan pembelian emas. Cadangan emas resmi negara ini mencapai 1.957,5 ton pada Oktober.

[Gambas:Video CNBC]






(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading