Pertamina Klaim Pembangunan 6 Kilang Masih "On Track"

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
06 November 2019 19:31
Pertamina klaim progress pembangunan kilang masih on track
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah lima tahun pertama di periode pemerintahannya tak ada progres signifikan untuk pembangunan kilang, Presiden Joko Widodo menginginkan di periode kedua ini rencananya bisa terealisasi.

PT Pertamina (Persero) pun optimistis bisa kebut pembangunan enam proyek kilang yang digagas sejak dulu, demi meningkatkan kapasitas yang saat ini masih 600 ribu barel per hari menjadi 1,7 juta barel per hari.

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina (Persero), Ignatius Tallulembang mengatakan kapasitas kilang baru mencapai 1 juta barel per hari, operasinya 800 - 900 ribu barel, dan menghasilkan produk BBM 650 ribu barel per hari.


Sementara kebutuhan BBM mencapai 1,3 - 1,4 juta barel per hari. "Ketergantungan energi kita masih impor, kapasitas kita akan tambah dua kali lipat. Dengan growth 4-5% kita bisa capai 1,7 juta barel," paparnya di Kantor Pertamina Pusat, Rabu, (6/11/2019).

Enam proyek kilang yang tengah dikebut terdiri dari 4 proyek pengembangan atau RDMP dan 2 proyek baru atau Grass Root Refinery (GRR). Menurut Ignatius, semua proyek sampai saat ini masih on track. "Tidak ada yang ketinggalan kereta," sebutnya.



Pertamina Klaim Pembangunan 6 Kilang Masih Foto: Infografis/6 proyek kilang menuju 2 juta barel sehari/Aristya Rahadian Krisabella


Berikut rinciannya:

[Gambas:Video CNBC]



RDMP Balikpapan.
Progres saat ini sudah masuk dalam tahap pembangunan dan ditargetkan selesai pada Juni 2023, dan pada Juni 2024 tuntas bisa operasi normal. Menurutnya konstruksi sudah dimulai pada Februari 2019, progress terakhir sudah mencapai 9%, lebih cepat dari rencana awal 6%.

"Balikapapn ini, kita milih partner equity partner. Dari 60 company, lalu jadi 20 lalu terakhir 10, sekarang tinggal 4 company. Jadi Desember nanti kita akan dapat equity partner. Awalnya April tahun depan, tapi kita percepat," terangnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, pembangunan RDMP Balikpapan terdiri dari dua tahap, yang saat ini dikerjakan baru tahap I. Lalu, untuk tahap II sudah diselesaikan basic engginering. Untuk yang tahap II, imbuhnya, bisa mengolah crude yang kadar sulfurnya 2%. "Kalau tahap I kan crude yang biasa, besok yang tahap II bisa olah crude yang lebih murah lah. Antara tahap I dan II jadi gak akan jauh. Tahap II, 2026 bisa onstream," imbuhnya.

RDMP Balongan.
Menurut Ignatius untuk tahap I ini sudah masuk tahap lelang, yang artinya sudah siap. Salah satu cara untuk mempercepat yakni melalui procurement and construction (EPC) dan lelang design. Saat ini lelang EPC sudah dimulai, ditargetkan pihak yang akan membangun sudah ditentukan Desember 2019. Kapasitas Kilang Balongan yang saat ini 125.000 barel per hari akan meningkat menjadi 240.000-250.000 barel per hari setelah dimodifikasi.

"Basic design kan udah, kalau pakai cara lama, Front End Engineering Design (FEED) tuh butuh 6 bulan sampai setahun. Jadi kan nunggu dua tahun kan. Nah beda nih hasil FEED siapa yang terbaik langsung bangun EPC. Jadi, Balongan tahap I kita bisa selesaikan Oktober 2022," paparnya.

RDMP Cilacap
Proyek ini ditargetkan valuasi nilainya keluar bulan ini bersama mitranya Saudi Aramco. Pertamina mengaku melakukan negosiasi secara intens , jika sebelumnya valuasi sendiri lalu melaporkan hasil, sekarang terjalin kesepakatan mencari financial adviser.

"Satu bulan valuasinya akan keluar. Mudah mudahan itu adalah hasil kesepakatan. Valuasi itu selesai bulan ini. Valuasinya disepakati Desember. Joint Venture Development Agreement (JVDA ) nya diupayakan desember juga. Awal tahun semoga kita sudah signing engenering," ujar Ignatius.

RDMP Dumai
Pertamina menargetkan tahun 2027 proyek ini selesai. Dumai memiliki kapasita 140 ribu barel per hari. Menurutnya kapasitas ini naik 300 ribu barel dari RDMP. Belanja modal atau capex nyam sekitar US$ 5- 8 miliar. "Range nya lebar karena akan evaluasi dengan partner agar lebih optimum. Bisa juga ke petrokimia. Awal tahun depan sudah bank feasibility, 2027 bisa operation," terangnya.

GRR Tuban.
Lahan KLHK, imbuh Ignatius, akan segera dieksekusi untuk pembayaran. Lahan warga tengah dilakukan pengukuran dan segera dieksekusi untuk pembayaran. "Targetnya 2026 selesai proyeknya."

GRR Bontang.
Menurutnya saat ini tengah proses pengadaan lahan. Untuk GGR ini dibutuhkan lahan 400 hektar, pihak Pertamina akan mencoba mencari tambahan dari lahan warga. Ditargetkan bisa selesai tahun 2026.


(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading