Waduh! 90% Sepeda di RI dari China, Produsen Lokal ke Mana?

News - Efrem Limsan Siregar, CNBC Indonesia
28 September 2019 20:39
Ketua Asosiasi Industri Persepedaan Indonesia (AIPI), Rudiyono, mengungkapkan 90% produk sepeda dan bahan baku saat ini berasal dari China.
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah industri tekstil dan produk tekstil (TPT) tertekan akibat serbuan produk impor dari China, hal serupa juga mendera industri sepeda nasional.

Ketua Asosiasi Industri Persepedaan Indonesia (AIPI), Rudiyono, mengungkapkan 90% produk sepeda dan bahan baku saat ini berasal dari China. Ia menilai derasnya impor tersebut berkaitan dengan perjanjian ASEAN-China Free Trade (ACFTA).

"Memang Taiwan ada juga disini, tapi porsinya tidak signifikan, 90% lebih berasal dari China. Kita terkena dampak oleh produk China disebabkan banyak hal, yang kami rasakan karena ACFTA, ini membuat kami terpukul," kata Rudiyono dalam program talkshow Profit, CNBC Indonesia, Jumat (27/9/2019).



Ia menilai industri sepeda nasional sulit bersaing dengan derasnya impor unit sepeda dari China. Sementara untuk komponen dan bahan baku, Indonesia, sambung Rudiyono, mampu memproduksi 60% komponen sepeda, namun untuk bahan baku aluminium masih harus impor.

"Idealnya harga BM komponen lebih rendah dari barang jadinya. Ini supaya bisa masuk ke pasar, kita membuat impor lebih menguntungkan. Minimal harusnya sama. Kita membuat dengan bahan baku dari luar, menjadi produk jadi, minimal sama supaya kompetitif," ucapnya.


Selain itu, pengusaha juga dipusingkan lewat kebijakan kepabeanan yang menurut Rudiyono timpang dan tidak harmonis. Persoalan UMR (upah minimum regional) dan pesangon juga dianggap tidak ideal bagi kalangan pelaku usaha sepeda.

"Kebijakan kepabeanan yang timpang dan enggak harmonis, kemudian dari segi tenaga kerja juga, industri sepertinya enggak dalam kondisi ideal, terkait UMR, terkait pesangon," tambahnya.

Keterlibatan pemerintah diharapkan bisa mengurai persoalan di industri sepeda. Apalagi permintaan sepeda dalam negeri pada tahun ini diprediksi Rudiyoni meningkat mencapai 7 juta unit dari tahun sebelumnya sekitar 6,5 juta unit.

"Sepanjang iklim usaha kayak gini kita tetap bergantung [impor]. Kalau China memikirkan global, mereka enggak memikirkan diri sendiri, mereka memikirkan kebutuhan dunia, jadi skala ekonominya besar. Kalau kita skala ekonominya masih kecil. Sepanjang kita tidak bersama pemerintah, agak susah, jadi ketergantungan dengan komponen impor," ujarnya.

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading