Gegara Arab, Tagihan Impor Minyak RI Berisiko Naik?

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
18 September 2019 18:22
Gegara Arab, Tagihan Impor Minyak RI Berisiko Naik?
Jakarta, CNBC Indonesia- Serangan drone ke fasilitas produksi dan kilang minyak Saudi Aramco berdampak signifikan ke harga minyak dunia dan tagihan impor ke negara-negara konsumsi.

Dalam rilis DBS hari ini dijelaskan, serangan ini berdampak pada pasokan minyak global dan membuat harga minyak merangkak naik. Alhasil negara pengimpor berisiko menerima tagihan yang lebih besar di kontrak mendatang. "Terutama yang terdampak tagihan impor minyak yang besar,"  ujar Kepala Ekonom DBS Research Taimur Baig, Rabu (18/9/2019).




Apalagi pembelian minyak menggunakan US$. Selisih mata uang akan menjadi beban berat bagi negara berkembang yang membeli minyak.


Dampak Terbesar ke Asia

Direktur Riset Wood Mackenzie Vima Jayabalan mengatakan fasilitas yang diserang adalah fasilitas utama untuk produksi minyak extra light dan light crude oil yang banyak dipasok ke Asia. "China dan Jepang paling banyak dengan mengambil 900 sampai 1100 kilo barel per hari. India bisa jadi paling terkena parah karena memiiki cadangan paling sedikit," jelasnya, Senin (16/9/2019).

Secara kolektif, kebutuhan Asia akan minyak Arab Saudi adalah sebanyak 5 juta barel sehari atau setara dengan 72% ekspor minyak Arab Saudi. Dari fasilitas yang terkena dampak serangan, diperkirakan konsumsi pasar Asia yang terganggu mencapai 2,5 sampai 2,7 juta barel per hari. Permintaan dari Asia sendiri cukup tinggi dalam beberapa tahun belakangan.

"Mencari minyak dengan kualitas seperti itu sangat menantang, apalagi OPEC dan sekutusnya juga sudah mengumumkan pemangkasan produksi," jelasnya.

Harga minyak juga diproyeksi akan terdampak karena macetnya pasokan minyak mentah ke kilang pengolahan dan petrokimia.




Lantas Bagaimana dengan RI?
Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM mengatakan memang harga minyak sudah menunjukkan kenaikan, tapi masih aman untuk sampai berdampak ke harga BBM di Indonesia.

Menurut Djoko, kenaikan harga minyak dunia tersebut masih dalam kondisi aman terhadap pembentukan harga BBM. Pasalnya, harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) masih di bawah harga Brent. Sehingga, menurutnya masih ekonomis.

Lebih lanjut, dia menjelaskan untuk perkiraan ICP pada Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2020 dipatok sebesar US$ 63 per barel, besaran ICP tersebut disepakati mendekati level harga minyak mentah brent saat ini. 

"Nah ini kan kira-kira kalau ICP-nya kan berarti kurang lima, US$ 67 kurang US$ 5, jadi US$ 62,83, nah kemarin kita kan patoknya US$ 63 untuk 2020, jadi masih oke kok," tuturnya.

Sebelumnya, Djoko menjelaskan produksi Aramco bisa mencapai 13,6 juta barel sehari, sementara akibat serangan drone yang terganggu sekitar 5,7 juta barel. "Berarti masih ada sisa 7,9 juta barel per hari produksinya, kebutuhan kita cuma 0,11 juta barel," kata Djoko.

Menurutnya, serangan di kilang ini akan berdampak pada produksi crude di Saudi Aramco, namun perusahaan akan tetap mencoba memenuhi komitmen yang sudah diteken. Untuk produk minyak seperti BBM, sampai saat ini belum ada kabar gangguan produksi. "Kita belum dapat informasi, mudah-mudahan gak dari sana, cuma crude saja."

Semestinya, pengapalan minyak dari Aramco ini jalan di akhir September nanti. Sebagai antisipasi gangguan, pemerintah menyiapkan pembelian minyak dari Exxon. "Kita beli minyak Exxon nanti, dari Cepu kan ada bagian Exxon. Nanti kami beli, tanggal 20 September saya mau resmikan pembelian pertama minyaknya Exxon, kalau ini terganggu."

(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading