Pabrik Batam ke Myanmar: RI Tersalip dari Bola Sampai Ekonomi

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
29 August 2019 14:30
Myanmar perlu diperhitungkan sebagai pesaing Indonesia.
Selaon bidang sepakbola, di bidang ekonomi pun Myanmar mulai membayangi Indonesia. Myanmar menjadi negara tujuan investasi favorit baru selain Vietnam.

Batam, daerah yang dulu menjadi primadona investasi manufaktur, mulai ditinggalkan. Beberapa investor memilih Myanmar sebagai tujuan mereka. Perusahaan speaker di Batam misalnya dikabarkan relokasi ke Myanmar pada tahun ini.


Apa yang membuat Myanmar begitu seksi? Pertama tentu saja upah.


Mengutip ASEAN Briefing, saat ini rata-rata upah buruh di Myanmar adalah US$ 98,88/bulan atau sekira Rp 1,4 1 juta/bulan. Sementara di Indonesia, Upah Minimum Provinsi (UMP) terendah adalah Rp 1,57 juta/bulan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan tertinggi di Daerah Khusus Ibukota Jakarta yaitu Rp 3,94 juta/bulan.

Kedua adalah Myanmar punya potensi ciamik selepas transaksi demokrasi mulai 2011 dan dicabutnya berbagai sanksi ekonomi negara barat. Pertumbuhan ekonomi pun melaju dengan kencang.

Sepanjang 2011-2018, rata-rata pertumbuhan ekonomi Myanmar adalah 6,9%. Indonesia? 5,36%.



Bank Dunia memperkirakan ekonomi Myanmar tahun ini tumbuh 6,5% dan naik menjadi 6,7% pada 2020-2021. Ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5,1% tahun ini dan naik ke 5,2% pada 2020.

"Pertumbuhan ekonomi Myanmar didukung oleh momentum reformasi yang terus berjalan, pembangunan infrastruktur dalam skala besar, dan arus investasi seiring liberalisasi ekonomi. Beberapa langkah reformasi yang sudah ditempuh antara lain penggunaan mata uang yen Jepang dan yuan China untuk setelmen perdagangan, mengundang perusahaan asuransi asing untuk membuka usaha, mengizinkan bank komersial untuk memberi kredit berbunga 16%/tahun tanpa jaminan, memperkenankan bank asing beroperasi, dan penggunaan anggaran berbasis elektronik," papar laporan Bank Dunia.

Artinya, pasar Myanmar sangat menjanjikan. Permintaan domestik masih punya ruang untuk tumbuh lebih cepat, menawarkan cuan bagi dunia usaha.

Ketiga, seperti yang sudah disebut oleh Bank Dunia, Myanmar sedang getol membangun infrastruktur. Myanmar ingin cepat mengejar ketertinggalan setelah puluhan tahun menjadi negara tertutup.

Untuk itu, Myanmar bergabung ke program yang digagas China yaitu Belt and Road Initiative alias Jalur Sutra Modern. April lalu, nota kesepahaman (MoU) China-Myanmar Economic Corridor Cooperation 2019-2030 ditandatangani. Dalam MoU tersebut, kedua negara sepakat untuk mengembangkan infrastruktur, konstruksi, industri manufaktur, pertanian, transportasi, keuangan, pengembangan sumber daya manusia, sampai riset dan teknologi.

Koridor Ekonomi Myanmar-China akan meliputi jalur sepanjang 1.700 km yang menghubungkan Kunming di sisi China hingga ke Kyaukphu di Myanmar. Jalur ini tentu akan sangat menarik bagi dunia usaha, karena akan menciptakan kantung-kantung pertumbuhan ekonomi baru.

Tiga hal tersebut rasanya sudah menjadi alasan kuat mengapa investor kini berpaling ke Myanmar. Seperti halnya di sepakbola, seluruh pemangku kepentingan ekonomi di Indonesia harus waspada. Kalau tidak ada perbaikan, Myanmar bisa menjadi Vietnam baru yang sudah selangkah di depan Indonesia.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(aji/hoi)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading