Mimpi Buruk, Ini Ramalan Ekonom Soal CAD Kuartal II-2019

News - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
09 August 2019 07:45
Mimpi Buruk, Ini Ramalan Ekonom Soal CAD Kuartal II-2019
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) dijadwalkan merilis angka Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) hari ini Jumat (9/8/2019). Dalam komponen tersebut akan terlihat berapa defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

Transaksi berjalan menggambarkan arus masuk-keluar devisa yang datang dari tiga hal: ekspor-impor barang dan jasa, pendapatan primer, dan pendapatan sekunder.

Transaksi berjalan menjadi faktor penting dalam mendikte laju rupiah lantaran arus devisa yang mengalir dari pos ini cenderung lebih stabil. Berbeda dengan pos transaksi finansial (komponen NPI lainnya) yang pergerakannya begitu fluktuatif karena berisikan aliran modal dari investasi portfolio atau yang biasa disebut sebagai hot money.





CNBC Indonesia merangkum ramalan para ekonom terkait dengan angka CAD. Sayangnya, ramalan CAD di kuartal II-2019 ini masih menunjukkan angka yang tidak baik.

CAD masih akan berada di angka 3% terhadap PDB. Simak :

1. Josua Pardede Bank Permata

Bank Permata memproyeksi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) kuartal II-2019 adalah US$ 8,29 miliar atau 2,98% terhadap PDB.

"Meningkat dari kuartal sebelumnya yang tercatat defisit US$ 5,20 miliar atau 2,6% terhadap PDB," ujar Ekonom Bank Permata Josua Pardede.

Peningkatan CAD dipengaruhi oleh penurunan surplus neraca perdagangan non-migas disertai dengan peningkatan defisit neraca migas seiring permintaan yang meningkat saat lebaran. Selain itu, CAD pada kuartal II juga dipengaruhi oleh faktor musiman libur sekolah sehingga mendorong penurunan surplus jasa perjalanan.

"Disamping itu, surplus neraca pendapatan primer juga diperkirakan mengalami penurunan seiring dengan pembayaran dividen pada kuartal II."

Sementara itu, neraca transaksi finansial dan modal diperkirakan tetap surplus namun menurun dibandingkan kuartal sebelumnya. Surplus neraca transaksi modal dan finansial ditopang oleh aliran masuk investasi portofolio.



2. Satria Sambijantoro Bahana

Bahana Sekuritas memproyeksi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada kuartal II-2019 sebesar US$ 8,2 miliar atau 2,9% terhadap PDB. CAD ini dinilai lebih baik dibandingkan kuartal II pada tahun-tahun sebelumnya.

"Naik 0.3% dari kuartal I-2019 sebesar 2,6% dan ini terbilang bagus," ujar Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro.

Menurut Satria, selama kuartal II biasanya CAD memang selalu naik sehingga biasanya lebih dari 3% terhadap PDB. Bahkan pada kuartal II tahun 2013 dan 2014 pernah mencapai 4,2% terhadap PDB.

"Negara-negara lain juga CAD membengkak karena ekspor kena hantam. Ini Indonesia membengkak cuma 0,3% disaat perang dagang AS-China, secara relatif CAD kita bagus dibandingkan negara regional," jelasnya.

3. Myrdal Gunanto Maybank

Maybank memproyeksi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada kuartal II-2019 sebesar 3,05% terhadap GDP.

Ekonom Maybank Myrdal Gunanto mengatakan, ada dua faktor penyebab CAD membengkak di kuartal II. Pertama karena kinerja ekspor yang terus melemah terkana dampak perang dagang antara AS dan China.

"Kedua, karena defisit primary income juga masih belum bisa ditutupi oleh surplus dari secondary income. Apalagi pembayaran dividen, bunga utang juga tinggi pada periode Juni," kata Myrdal.

4. Andry Asmoro Bank Mandiri

Bank Mandiri memproyeksi defisit transaksi berjalan (current account defisit/CAD) menjadi US$ 8,06 miliar atau 2,9% terhadap PDB. CAD ini lebih lebar dibandingkan kuartal I-2019 sebesar US$ 6,97 miliar atau 2,6% terhadap PDB.

CAD melebar dinilai karena faktor musiman yang memang selalu terjadi di kuartal II setiap tahunnya. Dimana pada kuartal II defisit pendapatan primer juga membangkak karena pembayaran bunga utang luar negeri yang lebih tinggi dan juga repatriasi dividen.

Selain itu, neraca barang juga diperkirakan akan mengalami defisit pada kuartal II ini. Padahal pada kuartal I lalu sempat mengalami surplus.

"Ini karena kinerja ekspor yang melambat dibandingkan dengan kinerja impor," ujar Ekonom Bank Mandiri Andy Asmoro.

Selain itu, neraca jasa juga diperkirakan akan menyusut setelah pengurangan impor yang menurunkan defisit angkutan barang.

"Kami melihat surplus pendapatan sekunder memuncak sebagai transfer pribadi bersih, sebagian besar berasal dari pekerja migran yang naik selama Ramadhan dan Idul Fitri," jelasnya.

[Gambas:Video CNBC] (dru/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading