Mobil Listrik Siap Meluncur, Bagaimana Nasib B20 RI?

News - Gustidha Budiartie, CNBC Indonesia
29 July 2019 07:30
Jika kebjakan mobil listrik mulai jalan, bagaimana dengan nasib kebijakan B20 yang sama-sama bertujuan menekan impor BBM dan selamatkan devisa RI?
Jakarta, CNBC Indonesia - Peraturan presiden tentang kendaraan listrik akan diterbitkan dalam waktu dekat. Kebijakan ini diluncurkan sebagai salah satu cara pemerintah menekan penggunaan BBM dan menyelamatkan devisa negara.

Selain aturan yang akan terbit, kesiapan infrastruktur juga sedang disiapkan. Seperti yang diungkap oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, yang meminta PLN lebih massif membangun SPLU atau Stasiun Pengisian Listrik Umum.




"SPLU itu seharusnya dibuat di tempat ramai seperti mal, pasar, gedung perkantoran atau parkir-parkir publik. Tapi, di kemudian hari ini tergantung pada industri otomotif itu sendiri," ucap Jonan dikutip dari laman Sekretariat Kabinet, Minggu (28/7). 

Jonan optimistis pertumbuhan mobil listrik di Indonesia berada pada tren positif dengan mendapat sokongan dari luar sektor energi. Optimisme ini juga didasari atas tingginya animo pasar global terhadap permintaan mobil listrik. 

"Mobil listriknya tumbuhnya cepat, kalau disertai dukungan sektor lain seperti perindustrian dan keuangan. Saya sendiri yakin, (mobil listrik ini) pasti tumbuh besar," kata Jonan. 

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Umum PLN Djoko Abumanan mengklaim sudah terdapat lebih dari 3.600 SPLU yang dibangun oleh PLN. Ia bilang PLN mengatur strategi supaya menarik minat masyarakat menggunakan mobil listrik.

"PLN memberikan gratis tambah daya bagi mobil listrik. PLN sudah hadir memberikan kemudahan supaya mobil listrik biar cepat," kata Djoko.

Mobil Listrik Siap Meluncur, Bagaimana Nasib B20 RI?Foto: PT Pertamina (Persero) telah meluncurkan Green Energy Station (GES) yang merupakan Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) pertama dari BUMN migas tersebut. (CNBC Indonesia/Anastasia Arvirianty)




Nasib B20
Dengan segala kesiapan menggencarkan penggunaan mobil listrik, tersisa satu pertanyaan tentang nasib kebijakan pengembangan biodiesel seperti B20 dan B30.

Seperti mobil listrik, kebijakan biodiesel yang lebih dulu hadir juga dimaksudkan untuk menekan impor BBM dan menyelamatkan devisa negara. Akankah B20 tergerus porsinya jika mobil listrik mulai masuk ke pasar?



Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan kehadiran mobil listrik tak akan mengganggu pasar B20 dan B30 yang tengah berkembang di Indonesia.

"Tidak masalah, karena itu (mobil listrik) takes time," kata Paulus saat sesi diskusi pembekalan kelapa sawit yang digelar oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) pekan lalu.

Paulus memproyeksi B20 dan B30 masih lebih tinggi permintaannya hingga 10 tahun mendatang, sementara mobil listrik yang perpresnya masih tertahan juga memerlukan beberapa aturan teknis lainnya agar berjalan efektif.

Mobil listrik, kata dia, saat ini juga memiliki tantangan tersendiri soal daya tahan baterainya. "BMW pernah paparan, yang tidak terpikir adalah pembuangan baterainya. Mereka sedang pikirkan itu, bagaimana memperlambat pembuangan tersebut agar tidak menjadi limbah."

Mobil Listrik Siap Meluncur, Bagaimana Nasib B20 RI?Foto: Peluncuran Mandatori B20 di Lapangan Kementerian Keuangan, Jumat (31/8/2018) (CNBC Indonesia/Rivi Satrianegara)


Efektivitas Mobil Listrik Menekan Devisa
Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad mengatakan efektivitas penggunaan EV masih dipertanyakan. Sebab Indonesia dinilai masih belum siap dalam hal infrastruktur serta komponen kendaraan ini.  

"Ketidakefektifan tentu saja harga vehicle yang ditawarkan masih terlampau mahal, seperti halnya produk Motor Gesit.  Ini terjadi karena battery masih impor, sementara infrastruktur yang dibangun juga mahal sekali," kata Tauhid di Jakarta, Minggu (28/7/2019).

Ekonom senior Indef Faisal Basri menambahkan, meski penggunaan EV ini ditujukan untuk menekan defisit migas, namun tak bisa dibohongi bahwa nantinya justru akan menimbulkan defisit mobil dan baterai sebagai komponen utama dari kendaraan listrik.

Dari sisi lain, secara administrasi, kata Tauhid, penggunaan EV ini belum dimasukkan dalam aturan pengenaan pajak daerah.

Selain itu, nikel, sebagai bahan baku baterai, yang diproduksi di dalam negeri saat ini justru diperuntukkan untuk ekspor ketimbang untuk pemenuhan dalam negeri. 

"Di sisi lain,  belum banyak perusahaan domestik, termasuk BUMN, melakukan investasi pionir untuk industri secara masif. Masih butuh waktu," jelas Tauhid.

Faisal juga menyebutkan bahwa meski nantinya penggunaan EV sudah massive, dominasi pengganaan fossil fuels akan tetap besar.

"Jadi ringkasnya, mobil listrik sampai 2040 belum bisa meredam secara signifikan krisis energi. Jadi, yang jadi kunci utama adalah pembenahan migas di dalam negeri. Sampai 2040 dunia masih sangat bergantung pada minyak, gas dan batu bara," tegasnya. 

[Gambas:Video CNBC]
(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading