BI Ramal Perang Dagang Terjadi Sampai 2020

News - Lidya Julita S, CNBC Indonesia
19 July 2019 18:35
BI Ramal Perang Dagang Terjadi Sampai 2020
Medan, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) memandang perang dagang yang terjadi di antara Amerika Serikat (AS) dan China masih akan berlangsung hingga 2020 mendatang. Oleh karena itu, ini menjadi salah satu hal yang terus diwaspadai oleh Bank Indonesia.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan, pasar juga memperkirakan bahwa kebijakan Presiden Donald Trump sengaja dilakukan hingga pemilu AS 2020.

"Trade war semua yang kita baca dari media, kita tak tahu ini apa, tapi ini cara Trump menuju 2020. Jadi ini bisa saja sampai election," ujar Dody di Hotel Adimulia, Medan, Jumat (19/7/2019).


Namun, ia menekankan bahwa ini hanya perkiraan pasar saja. Untuk kepastiannya harus dilihat di awal tahun depan.

BI Ramal Perang Dagang Terjadi Sampai 2020Foto: Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo (kiri) (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)


"Setelah itu seperti apa kita tak tahu, kita lihat tahap I sampai 2020 masih akan menolong, after 2020 kita tak mengerti. Tapi memang teman-teman harus wise bacaannya muncul di lebih banyak media Internasional," jelasnya.

Lanjut Dody, yang pasti belum adanya hasil positif dari ekskalasi perang dagang ini membuat kondisi ekonomi global akan lebih melambat. Melambat tidak hanya untuk perekonomian kedua negara yang berseteru tetapi juga ke negara emerging market termasuk Indonesia.

"Pasar sudah lihat semakin firm trade war akan terus berlanjut. Jadi otomatis akan terjadi secara global pelambatan ekonomi, dikonfirmasi outlook dari IMF dari semester kedua akan terjadi kondisi yang lebih menurun dan performance semakin maju dan berkembang. Namun semester II mereka akan hadapi juga pelambatan ekonomi," tegasnya.

Dampak dari perang dagang saat ini sudah terlihat di negara-negara dunia dengan menurunnya kinerja ekspor. Penurunan ekspor terjadi baik di negara maju maupun negara berkembang.

"Dampak berikutnya juga terlihat konsumsi tertahan karena pendapatan ekspor akan berkurang. Terutama Indonesia ekspor SDA sudah pasti eksportir kita ekuivalen rupiah yang diterima menurun dan mengurangi kemampuan konsumsi. Dampak berikutnya permintaan produksi berkurang karena demand global menurun, dan ini membuat juga investasi melambat di negara maju, emerging, dan Asia," tutupnya.






(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading