Tutup 6 Gerai, Giant Sedang Berdarah-darah?

News - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
24 June 2019 13:26
Aprindo menegaskan penutupan gerai lebih karena persoalan efisiensi dan strategi bisnis membaca tren konsumen.
Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) angkat suara soal kabar penutupan gerai-gerai retail Giant. Salah satu gerai anggota Aprindo ini diklaim menutup gerai karena faktor strategi bisnis dan efisiensi.

Ketua Umum Aprindo Roy N. Mandey mengatakan Giant melalukan efisiensi bisnis, dan hal yang lumrah dalam bisnis retail. Retail di bawah induk usaha PT Hero Supermarket Tbk. ini menurut Roy sedang mengikuti tren konsumen retail di Indonesia.


"Seperti anggota kami Giant, itu luasnya pertama 5.000 meter persegi ke atas. Tetapi karena ada perubahan perilaku konsumen semua peritel merubah menjadi medium set area dimana luas nya hanya 2.000-3.000 meter persegi luas nya, " kata Roy kepada CNBC Indonesia, Senin (24/6).


Ia mengatakan industri ritel tidak ada masalah signifikan pada kondisi saat ini. Ia bilang justru ritel kita sedang tumbuh, tahun ini ditargetkan bisa mencapai 10%.  "Yang terjadi bila ada penutupan itu terjadi karena ada efisiensi," katanya.

"Soal penutupan memang sudah direncankanan. Ini bukan karena mendadak atau korporasi berubah atau karena (bisnis) online. Semua isu itu tidak ada. Ini semua sudah direncanakan. Penutupan terjadi karena masa sewa toko ritel memang telah berakhir. Ini sekaligus ditutup," tegas Roy.



Ada enam gerai Giant yang dikabarkan akan berhenti operasi mulai 28 Juli ini, gerai-gerai itu antara lain Giant Express Cinere Mall, Giant Express Mampang, Giant Express Pondok Timur, Giant Extra Jatimakmur, Giant Extra Mitra 10 Cibubur, dan Giant Extra Wisma Asri.

Namun, Hero, sebagai induk Giant, memang sedang berdarah-darah pada tahun lalu. Rugi bersih yang dibukukan perseroan semakin besar. Berdasarkan laporan keuangan yang di rilis perseroan Februari lalu, kerugian yang dialami perseroan sepanjang 2018 meningkat tajam. Nilainya mencapai Rp 1,25 triliun dari Rp 191,41 miliar pada 2017.

Sepanjang 2018 perseroan harus menerima kenyataan pendapatan turun 0,49% menjadi Rp 12,97 triliun dari Rp 13,03 pada 2017. Padahal, beban usaha perseroan turun 3,29% menjadi Rp 9,27 triliun.


Sedangkan pada laporan keuangan kuartal I-2019, Hero mencatatkan pendapatan bersih Rp 3,06 triliun. Naik tipis 0,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun secara keseluruhan, perseroan masih menderita rugi bersih Rp 3,52 miliar. Walau membaik dibandingkan kuartal I-2019 yaitu Rp 4,13 miliar.

[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Berguguran! Gerai Giant Tutup Berantai, Setop Total Juli 2021


(hoi/hoi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading