Gawat, Pengayaan Uranium Iran Segera Capai Level Bom Nuklir

News - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
18 June 2019 07:14
Gawat, Pengayaan Uranium Iran Segera Capai Level Bom Nuklir
Jakarta, CNBC Indonesia - Iran akan melampaui batas persediaan uranium yang diperkaya (low-enriched uranium) yang disepakati secara internasional dalam 10 hari, kata badan energi atom negara itu, Senin (17/6/2019).

Seorang juru bicara Organisasi Energi Atom Iran mengatakan negara itu akan menaikkan tingkat pengayaan hingga 20%, semakin dekat dengan bahan kualitas bom, untuk digunakan dalam reaktor lokal. Namun, ia menekankan bahwa Eropa masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir 2015 jika negara-negara yang tersisa dalam perjanjian itu menemukan cara untuk melindungi Republik Islam tersebut dari dampak sanksi ekonomi Amerika Serikat (AS).



"Kami telah meningkatkan pengayaan hingga empat kali lipat baru-baru ini, sehingga dalam 10 hari akan melewati batas 300 kilogram," kata juru bicara Organisasi Energi Atom Iran Behrouz Kamalvandi di TV pemerintah, seperti dikutip oleh Reuters.


"Masih ada waktu, jika negara-negara Eropa bertindak," lanjutnya, dilansir dari CNBC International, Selasa (18/06/2019).

Iran akan melampaui batas pengayaan yang disepakati secara internasional sebesar 3,67%, yang merupakan jumlah yang diizinkan untuk pengembangan tenaga nuklir sipil.

Pengayaan tingkat senjata adalah 90%, tetapi menurut para ahli nuklir, mencapai pengayaan 3% hingga 4% setara dengan sekitar dua pertiga dari pekerjaan yang dibutuhkan untuk mencapai angka 90% itu.

Teheran telah mengancam akan menolak melaksanakan kewajibannya berdasarkan perjanjian nuklir 2015 setahun setelah pemerintahan AS menarik diri dari kesepakatan itu dan menerapkan kembali sanksi sanksi pada ekonomi Iran. AS menargetkan untuk melumpuhkan sektor minyak Iran, sumber pendapatan terbesar negara itu.



Perjanjian nuklir yang dimaksudkan untuk menawarkan bantuan ekonomi bagi Iran dengan imbalan pembatasan terhadap program nuklirnya ditandatangani di bawah pemerintahan mantan Presiden AS Barack Obama bersama dengan Prancis, Jerman, Inggris, Rusia, dan China.

Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran mengatakan para pemimpin Eropa saat ini perlu "bertindak, bukan berbicara." (prm/prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading