Jika Kurs Tembus Rp 15.000/US$, Industri ini Bakal Merana

News - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
15 June 2019 17:25
Jika Kurs Tembus Rp 15.000/US$, Industri ini Bakal Merana
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menyampaikan pada tahun depan nilai tukar rupiah bisa menyentuh level Rp 15.000 per US$. Kondisi itu disebabkan oleh eskalasi ketegangan perang dagang Amerika Serikat dan China dan faktor domestik seperti transaksi berjalan yang masih defisit.

Ketua Asosiasi Gabungan Pengusaha Elekronik Indonesia Ali Soebroto mengatakan jika nilai tukar rupiah melemah, ini akan berimbas ke pasar produk elektronik yang memiliki komponen dolar yang tinggi baik dari produksi dalam negeri maupun impor barang jadi.

"Keduanya akan mengalami kenaikan biaya dalam mata uang rupiah, sebagai konsekuensinya harga jualnya ya naik, kecuali ada substitusi model baru dengan spesifikasi atau desain yang lebih murah," kata Ali Subroto saat dihubungi CNBC Indonesia, Sabtu (15/6/2019).




Dikatakan Ali, saat ini Indonesia memang mengalami masalah akut transaksi berjalan yang defisit. Selain itu, dari kinerja sisi ekspor maupun industri, kata dia, Indonesia masih lemah, sehingga impor terus berjalan dengan konsumsi yang besar. Sebab itu, Ali berharap, pemerintah menyiapkan kebijakan yang tepat mengatasi rupiah agar tidak melemah kian dalam.

"Kalau pemerintah tidak melakukan kebijakan ekonomi untuk mengatasi ini, berarti menyerahkan ke mekanisme pasar murni, ya kurs rupiah akan melemah terus," jelasnya. 


Gejala ini sebetulnya sudah terlihat dari penjualan produk konsumer elektronik sepanjang tahun 2018 cenderung turun sekitar 10% yang disebabkan karena masyarakat cenderung menunda pembelian barang-barang konsumsi. Namun, pada tahun ini, Ali meyakini pasar industri elektronik bisa tumbuh pada kisaran 5%-10%. 


Jika Kurs Tembus Rp 15.000/US$, Industri ini Bakal MeranaFoto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki


Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, sejumlah sektor akan terdampak melemahnya kurs. Namun yang paling terpukul adalah yang sangat bergantung pada impor bahan baku tinggi seperti industri farmasi.

"Farmasi dan obat obatan misalnya 90% bahan baku berasal dari impor. Sementara otomotif dan elektronik juga rentan terjadi kenaikan biaya produksi. Ketika biaya produksi naik tapi tidak diimbangi kenaikan harga jual, marjin laba akan tergerus," kata Bhima kepada CNBC Indonesia.

Senada, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) PIter Abdullah menyatakan, jika rupiah kembali bergerak melemah ke level Rp 15.000 per US$, banyak sektor yang terkena imbas, utamanya industri yang banyak membutuhkan bahan baku impor termasuk farmasi maupun industri yang banyak memiliki kewajiban dalam bentuk valuta asing.

[Gambas:Video CNBC] (miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading