Sri Mulyani Sebut Kurs Bisa Rp 15.000/US$ di 2020, Realistis?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
15 June 2019 15:36
Sri Mulyani Sebut Kurs Bisa Rp 15.000/US$ di 2020, Realistis?
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah analis menilai asumsi nilai tukar rupiah Rp 14.000 hingga Rp 15.000 per US$ di tahun depan sebagaimana yang disampaikan pemerintah kepada DPR masih realistis.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah menyatakan, sentimen berlanjutnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China menjadi katalis negatif bagi pasar keuangan global. Namun, dampaknya tidak akan langsung ke nilai tukar rupiah.

Tekanan terhadap Rupiah, dikatakan Piter lebih disebabkan oleh arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, yang secara langsung akan merepons dinamika perekonomian AS yang terdampak oleh perang dagang dan perkembangan domestik khususnya pada neraca dagang dan transaksi berjalan. 



"Asumsi nilai tukar di kisaran 14.000 sampai 15.000 pada tahun 2020 masih realistis. Perang dagang masih akan menghantui perekonomian global," kata Piter kepada CNBC Indonesia, Sabtu (15/6/2019). 




Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menyampaikan hal senada. Batas atas rupiah di level Rp 15.000 per US$ masih cukup realistis di tengah tekanan yang cukup besar.

Bhima menyebut, kurs rupiah akan kembali menguat seiring adanya proyeksi The Fed kembali melonggarkan kebijakan moneternya dan kembalinya aliran modal asing ke negara-negara emerging markets.

"Yang bisa membantu rupiah jika ekonomi AS menurun tajam terkena efek perang dagang, dan The Fed pangkas bunga hingga 50 bps tahun depan adalah aliran modal asing yang mencari emerging market lagi, tapi skenario itu masih mungkin berubah," ungkap Bhima kepada CNBC Indonesia.

Foto: Menteri Keuangan Sri Mulyani (ketiga kiri depan) saat mengikuti Raker dengan Komisi XI Membahas Asumsi Dasar dalam Kerangka Asumsi Makro dan Pokok Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2020. (CNBC Indonesia/Syahrizal Sidik)


Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bisa mencapai kisaran Rp 15.000. Hal itu disampaikan Menkeu saat rapat bersama Komisi XI DPR, Kamis kemarin. 


Menurut Menkeu, kisaran rupiah sebesar itu dinilai karena pengaruh faktor eskalasi perang dagang AS-China dan iklim investasi. Defisit neraca berjalan yang masih dialami Indonesia juga ikut mempengaruhi nilai tukar rupiah.


"Kita memiliki defisit neraca berjalan yang menimbulkan konsekuensi nilai tukar rupiah berpengaruh," ungkapnya.

Sri Mulyani mengungkapkan ketidakpastian ekonomi masih cukup besar membuat proyeksi ekonomi global tumbuh terbatas.

"2020 itu [harga] komoditas agak flat. Perang dagang yang belum terlihat perkembangan positifnya juga berpengaruh," tuturnya.



Lebih lanjut, Menkeu mengatakan faktor yang mendorong positif terhadap nilai tukar rupiah ialah arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed, yang diperkirakan akan melakukan penurunan suku bunga pada paruh terakhir tahun ini. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan akan menjadi daya tarik tersendiri untuk menarik masuknya arus dana modal asing.

"Dan capital inflow [aliran modal masuk] karena perbaikan sentimen ekonomi Indonesia dengan rating yang meningkat dan daya tarik pertumbuhan Indonesia lebih tinggi dibanding negara emerging lain," ujarnya.

[Gambas:Video CNBC] (miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading