Genjot Alokasi Gas Domestik, Pembangunan Jargas Bakal Massif

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
29 April 2019 16:32
Genjot Alokasi Gas Domestik, Pembangunan Jargas Bakal Massif
Jakarta, CNBC Indonesia- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim pemanfaatan gas bumi Indonesia untuk kepentingan domestik dibandingkan untuk ekspor terus meningkat. Tren peningkatan alokasi gas untuk domestik ini rata-rata sebesar 8% per tahun. Tahun lalu, porsi gas untuk domestik mencapai 60%.

"Terbukti sejak 2014 pemanfaatan gas domestik untuk pertama kalinya lebih besar dari ekspor yaitu sebesar 53%. Kami harapkan tahun ini dapat meningkat lagi di atas 60%," ujar Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ego Syahrial, di Jakarta, Senin (29/4/2019).




Lebih lanjut, Ego menuturkan, alokasi gas bumi untuk domestik sepanjang 2018 dimanfaatkan untuk berbagai sektor, mulai dari industri hingga Jaringan Gas Kota (Jargas). Rinciannya, LNG Domestik (6,03%), LPG Domestik (2,3%), kelistrikan (12,78%), pupuk (10,94%). Sementara alokasi untuk Industri (25,25%), lifting minyak sebesar (2,81%) serta jargas (0,05%).

Melalui alokasi gas domestik ini salah satu program yang akan digenjot realisasinya adalah pembangunan jargas, tujuannya adalah memberikan akses energi seluas-luasnya kepada masyarakat, penghematan biaya bahan bakar, mengurangi beban subsidi LPG dan menghemat devisa negara. Pemerintah menargetkan mulai tahun 2020 akan membangun 1 juta Sambungan Rumah (SR) per tahun.

"Kemarin Menteri ESDM sudah memanggil PGN dan mereka siap untuk mendukung pembangunannya, Peraturan Presiden juga sudah ditanda tangani, karena apabila Pemerintah ingin mengurangi impor LPG, maka pembangunan jargas harus dilakukan dalam jumlah besar," tambahnya.

Adapun, dalam membangun jargas ini, PT Perusahaan Gas Negara/PGN Tbk (PGAS) mengincar segmen pengguna jargas tingkat atas untuk mendapatkan nilai niaga tinggi dibandingkan dengan pengguna rumah tangga tingkat 1 dan tingkat 2.

Direktur Utama PGN Gigih Prakoso mengatakan, sudah ada 1,2 juta titik jargas yang sudah terkonfirmasi bakal dibangun, tetapi pengerjaan jargas akan dilakukan secara bertahap.

"Pasar yang ideal itu sebenarnya konsumen di atas pengguna RT-1 dan RT-2. Ini sasaran kita ke depan. Skema ini akan jauh komersil dan bayar jauh lebih mahal di atas harga itu (RT-1 dan RT-2)," katanya, ketika dijumpai di Jakarta, Jumat (26/4/2019).

Dengan menyasar segmen tersebut, lanjut Gigih, pihaknya akan fokus menyelesaikan infrasturktur pendukungnya. "Akhir tahun bisa kami selesaikan berapa. Pekerjaannya tinggal pasang pipa saja, jadi pemasangannya lebih cepat," tambahnya.

Terkait penetapan harga, pihaknya menanti BPH Migas untuk menentukan harga Jargas untuk segmen pengguna atas. PGN juga membuka diri untuk bekerja sama dengan berbagai pihak, untuk pengembangan Jargas.

Berdasarkan informasi BPH Migas, untuk golongan RT-1 terdiri dari rumah susun, rumah sederhana dan rumah sangat sederhana, sedangkan RT-2 yang terdiri dari rumah mewah, rumah menengah ke atas dan apartemen. Secara umum, untuk harga jual gas konsumen rumah tangga pada jaringan pipa distribusi untuk RT-1 paling banyak Rp 4.250/m3 dan untuk RT-2 paling banyak Rp 6.250/m3.

Sementara, harga jual gas bumi melalui pipa konsumen pelanggan kecil pada jaringan pipa distribusi untuk Pelanggan Kecil-1 (PK-1) paling banyak sebesar Rp 4.250/m3 dan untuk Pelanggan Kecil-2 (PK-2) paling banyak Rp 6.250/m3.

Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN Dilo Seno Widagdo menambahkan, PGN memiliki target jangka pendek, ataupun menengah dalam pengembangan jargas.

"Untuk target pendek dan menengah dalam dua tahun kami akan coba sampai 1 juta SR. Total inventaris pelanggan 1,2 juta. Untuk satu juta SR itu dibutuhkan belanja modal sekitar Rp 12 triliun," pungkasnya.

[Gambas:Video CNBC] (gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading