Debat Pamungkas

Jokowi Sebut Neraca Dagang RI Membaik, Simak Faktanya

News - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
14 April 2019 07:46
Jokowi Sebut Neraca Dagang RI Membaik, Simak Faktanya
Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca dagang Indonesia merupakan salah satu topik yang disinggung dalam debat calon presiden kelima sekaligus terakhir, Sabtu (13/4/2019). Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno menyatakan kesedihannya atas defisit yang mencapai US$ 8 miliar pada tahun 2018.

Namun seperti apa faktanya?

Memang benar, pada tahun 2018, perdagangan luar negeri (ekspor-impor) Indonesia diterpa badai besar.


Pasalnya, defisit neraca perdagangan yang terjadi pada saat itu mencapai US$ 8,49 miliar atau setara dengan Rp 114,65 triliun.



Angka ini merupakan data terakhir yang diperbaharui oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Februari 2019 dalam Berita Resmi Statistik (BRS) yang berjudul "Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia Januari 2019". Publikasi tersebut dapat diunduh di situs resmi BPS. Sedangkan pada publikasi bulan Januari 2018, angka sementara defisit dicatat sebesar US$ 8,57 miliar.





Mengacu data terbaru, defisit perdagangan Indonesia merupakan yang paling parah sepanjang sejarah RI.  Padahal pada tahun 2017 Indonesia masih bisa membukukan surplus perdagangan sebesar US$ 11,84 miliar.

Defisit hanya dapat terjadi apabila nilai impor barang lebih besar dibanding ekspor.  Penyebabnya kala itu adalah harga-harga komoditas ekspor andalan Indonesia yang berjatuhan.

Tercatat harga rata-rata minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) tahun 2018 melemah hingga 9,1% dibanding tahun 2017. Sama halnya dengan harga karet yang turun hingga 20,1%.



Sebagai informasi, komoditas minyak sawit memiliki peranan yang sangat besar terhadap kinerja ekspor Indonesia. Pada tahun 2018, andil minyak sawit terhadap total ekspor mencapai 11,3%. Hanya kalah dari andil batu bara yang sebesar 13,6%.

Pada waktu yang bersamaan, harga komoditas minyak bumi yang merupakan kebutuhan impor malah meroket. Harga rata-rata minyak Brent tahun 2018 naik 30,9% dari tahun sebelumnya.

Alhasil, neraca dagang diserang dari dua arah. Ekspor hanya tumbuh 6,65% sedangkan impor meroket hingga 20,15%. Tak ayal defisit neraca dagang membengkak.

Parahnya lagi, porsi impor kategori barang konsumsi tahun 2018 naik menjadi 9,11% dari tahun sebelumnya yang sebesar 8,97%. Sedangkan porsi barang modal dan bahan baku harus rela terpangkas menjadi tinggal 15,88% dan 75,01%. Padahal impor barang modal dan bahan baku bisa mendorong aktifitas industri Tanah Air.

Sumber: Badan Pusat Statistik




Menanggapi hal tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa neraca dagang kuartal I-2019 telah membaik.

"Saya kira data terbaru yang saya sampaikan, tahun 2018 memang neraca kita defisit US$ 8 miliar. Tapi kuartal tahun ini defisit kita turun US$ 0,67 miliar. Artinya usaha kita bukan main-main," kata Jokowi dalam debat capres.

Memang benar, defisit neraca perdagangan sepanjang Januari-Februari 2019 hanya sebesar US$ 734 juta, lebih kecil dibanding periode yang sama tahun 2018 yang mencapai US$ 808,9 juta.



Akan tetapi bilai dicermati lebih dalam, ternyata surplus neraca non-migas hanya sebesar US$ 152 juta, jauh lebih kecil dibanding tahun 2018 yang sebesar US$ 970,6 juta.

Perbaikan lebih disebabkan oleh neraca migas. Sepanjang Januari-Februari 2019 defisit migas hanya sebesar US$ 886 juta, jauh menyusut dari tahun sebelumnya yang sebesar US$ 1,77 miliar.



Ini bisa terjadi karena mulai tahun 2019, Pertamina membeli minyak jatah ekspor dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang selama ini dijual ke luar negeri. Jelas saja neraca migas menjadi lebih baik. Namun perlu diingat bahwa hingga saat ini Indonesia masih merupakan net-importir minyak demi memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Alhasil neraca migas kemungkinan besar akan selalu defisit.

Sedangkan untuk neraca non-migas, yang mana merupakan penyumbang surplus masih belum bisa dikatakan lebih baik. Bahkan bisa dibilang memburuk.



Sebagai catatan, data perdagangan luar negeri terkini yang dirilis oleh BPS baru sampai bulan Februari. Sedangkan perkembangan ekspor-impor periode bulan Maret baru akan dirilis Senin (15/4/2019) esok. Maka dari itu analisis perdagangan kuartal I-2019 masih belum bisa dilakukan secara penuh.


TIM RISET CNBC INDONESIA (taa/prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading