Sedih, Orang Miskin di RI Lebih Banyak dari Warga Australia

News - Iswari Anggit, CNBC Indonesia
10 April 2019 12:48
Sedih, Orang Miskin di RI Lebih Banyak dari Warga Australia
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah boleh berbangga, angka kemiskinan di Indonesia berada di bawah 10% untuk pertama kalinya dalam sejarah. Namun jumlah absolutnya masih sangat besar.

Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasionaol (Bappenas), Bambang Brodjonegoro, mengakui secara persentase, kemiskinan dan pengangguran di Indonesia terus menurun setiap tahunnya, namun secara jumlah tetap besar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2018, persentase kemiskinan Indonesia turun menjadi 9,66%. Dengan demikian, jumlah penduduk yang masih terjerat kemiskinan yakni, 25,67 juta jiwa.


Menurut Bambang, jumlah ini bahkan lebih besar ketimbang total penduduk Australia.

"Jumlah penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan itu lebih banyak dari total penduduk Australia yang 25 juta orang," ujarnya dalam acara Musrenbang DKI Jakarta, Rabu (10/4/2019).

Baca juga: Sri Mulyani: Kemiskinan Single Digit, First Time in A History

Begitu juga dengan pengangguran. Pada Agustus 2018, data BPS menunjukkan persentase pengangguran menurun 5,34%. Hal ini berarti, jumlah penduduk Indonesia yang masih menganggur adalah 7 juta orang.

Lagi-lagi Bambang mengatakan, jumlah pengangguran di Indonesia lebih besar dari total penduduk Singapura, yang berdasarkan data Department Of Statistics Singapore hanya 5,6 juta orang.

"Dengan 7 juta pengangguran itu jelas bukan angka yang kecil, lebih dari jumlah penduduk Singapura. Jadi mengurus Indonesia memang bukan hal yang mudah."

Dengan angka-angka tersebut, Bambang ingin agar pemerintah daerah bisa menyadari pentingnya peranan mereka. Pasalnya, jika hanya mengandalkan pemerintah pusat, tentu tercapainya pemerataan kesejahteraan sosial akan lambat. Pemerintah daerah diminta mengembangkan kebijakan daerah yang bisa menekan angka kemiskinan dan pengangguran.

"Jangan semuanya bergantung pada kebijakan ekonomi nasional. Tapi juga harus ada kebijakan ekonomi lokal untuk menciptakan lapangan kerja dan mendorong ekonominya. Tidak bisa kita hidup ke era sentralisasi," tandasnya. (wed/wed)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading