Nilai Tukar Pak Tani Loyo Terus 3 Bulan, Apa Kata Mentan?

News - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
01 April 2019 18:00
Nilai Tukar Pak Tani Loyo Terus 3 Bulan, Apa Kata Mentan?
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami penurunan beruntun selama kuartal I 2019. Penurunan yang mencatatkan hattrick itu terungkap ketika Badan Pusat Statistik (BPS) merilis NTP Maret 2019 sebesar 102,73.

Angka tersebut tidak lebih baik dari dua bulan sebelumnya yakni Januari 2019 sebesar 103,33 dan Februari 2019 di angka 102,94. Dibandingkan bulan sebelumnya, NTP Maret 2019 turun 0,21%. Penurunan paling tajam, terjadi pada subsektor tanaman pangan.

"Itu turun 1,33%. Apa yang terjadi? Karena indeks harga yang diterima petani turun. Selain itu karena saat ini sedang musim panen, sehingga turun tajam. Ini perlu menjadi perhatian," kata Kepala BPS Suhariyanto, Senin (1/4/2019).


Menanggapi hal tersebut Menteri Pertanian Amran Sulaiman menilai data BPS tidak bisa disorot hanya pada poin-poin tertentu saja. Dia meminta publik juga memperhatikan tingkat inflasi yang dirilis BPS.




"Perlu disampaikan, saat ini pertama kita harus sampaikan capaian yang telah divalidasi disahkan oleh BPS, pertama inflasi dulu 10% turun 1% 2017 dan 2018 3%. Ini capaian luar biasa," ungkapnya ketika ditemui di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Senin (4/1/2019).

Selain itu, Amran menjelaskan PDB naik dari Rp 900 triliun menjadi Rp 1.460 triliun. Capaian itu menurutnya merupakan kinerja yang luar biasa.

"Kemudian pengelolaan keuangan pertanian WTP dua tahun berturut-turut, mendapatkan penghargaan dari KPK sebagai lembaga anti gratifikasi terbaik. Tentu capaian ini dilandasi dengan data- data produksi," paparnya, masih memamerkan hasil kinerja Kementerian Pertanian.

Lebih lanjut, Mentan masih menjelaskan angka kemiskinan di desa yang menurun, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan awak media mengenai turunnya NTP 3 bulan beruntung.

"NTP sebagai alat ukur kesejahteraan naik, jangan dibaca per bulan. Terkadang ada orang membaca per bulan," bebernya.

"Ini yang keliru. Harus dibaca tahunan karena ini tanaman semusim. Itu yang perlu disempurnakan analisanya," pungkasnya.


(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading