Dari Imigran India, Kini Jadi Orang Terkaya ke-3 di Indonesia

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
07 March 2019 17:08
Dari Imigran India, Kini Jadi Orang Terkaya ke-3 di Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Menjadi seorang imigran yang mencari peruntungan di negeri orang bukanlah perkara mudah. Banyak yang sudah mencobanya, banyak pula yang terbukti gagal.

Namun, seorang remaja asal India kelahiran 1952 mungkin tak menyangka mampu mendulang kesuksesan di negeri orang. Bahkan, ia tercatat sebagai salah satu orang terkaya di negara tersebut.

Pemuda tersebut bernama Sri Prakash Lohia, yang memutuskan merantau bersama sang ayah pada 1973 untuk memulai kehidupan baru di Indonesia. Pada saat itu, Sri Prakash baru berumur 19 tahun.

Awalnya, 'duo ayah anak' itu mendirikan Indorama Synthetics, sebuah produsen benang pintal di Purwakarta, Jawa Barat pada 1976, atau tepat 3 tahun Sri Prakash berada di Indonesia.

Mengutip Quartz India, Prakash bercerita bagaimana sulitnya membangun sebuah perusahaan di negeri orang. Hal tersebut dirasakan terutama di tahun-tahun pertama.

"Masa tersulit terjadi di tiga sampai empat tahun pertama," kata Prakash, yang lahir di Kota Kolkata, suatu kota pelabuhan di Benggala Barat, India.

Sejak saat itu, perusahaan berkembang cukup pesat. Prakash menjadikan Indorama sebagai penyedia bahan baku tekstil terbesar di Indonesia, dan memiki perusahaan yang tersebar di Indonesia, Uzbekistan, hingga Thailand.


Prakash pun tak ragu untuk mencoba bidang bisnis baru. Misalnya pada pertengahan 1990-an, ia mendiversifikasi Indorama Synthetics dan mulai memproduksi polyethylene terephthalate (PET) untuk pembuatan botol plastik minuman.

Pada 2006, Sri Prakash berinvestasi di industri petrokimia dengan mengakusisi Eleme Petrochemicals Company yang berbasis di Nigeria dengan nilai US$ 225 juta sebagai bagian dari ekspansi Indorama.

Hingga saat ini, Indorama Corporation masih menjadi investor terbesar di sektor petrokimia Afrika Barat. Sejauh ini, perusahaan telah menginvestasikan dana sekitar US$ 2 miliar.

Di usianya yang kini 66 tahun, Sri Prakash masih terlibat dalam pengoperasian perusahaan. Perusahaannya yang terbesar di 19 negara, berhasil meraup pendapatan melebihi US$ 10 miliar per tahun.


Bermodal awal sekitar US$ 10 juta untuk membangun Indorama, nilai perusahaan Sri Prakash kini melonjak drastis. Bahkan, namanya masuk dalam 5 besar orang terkaya di Indonesia, versi majalah Forbes.

Kekayaan pria lulusan Universitas Delhi itu kini mencapai US$ 7,3 miliar. Kekayaannya hanya kalah dari orang paling kaya di bumi pertiwi yakni Hartono bersaudara (Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono), pemilik BCA dan Grup Djarum yang total kekayaannya mencapai US$ 37,1 miliar.

Dermawan dan Pecinta Seni
Menjadi warga negara Indonesia pada 1985, Sri Prakash nyatanya juga mendedikasikan hidupnya untuk meningkatkan kehidupan orang lain di berbagai wilayah yang tersebar di Indonesia.

Perusahaan dan yayasan yang dimilikinya, cukup aktif di berbagai bidang termasuk pendidikan, kesehatan, pengembangan sosial, dan upaya mengurangi pencemaran lingkungan.

Selain itu, Sri Prakash juga merupakan seseorang yang betul-betul mencintai seni dan merupakan salah satu kolektor buku langka terbesar di dunia, seperti dikutip dari Connected India.

Prakash pernah memamerkan koleksi buku The Holy Bible edisi ke 16 miliknya, serta The Holy Qur'an versi abad ke-18. Ia bahkan menjadi kolektor litograf terbesar kedua di dunia yang berasal dari abad ke-17.

Prakash pun pernah menghabiskan dana sekitar US$ 75 juta untuk merenovasi sebuah rumah berusia 243 tahun di Mayfair, London dengan bantuan sejarawan dan pengrajin.



Simak cerita Crazy Rich Indonesia.
[Gambas:Video CNBC]
(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading