Penjualan Mobil & Semen Turun, Ada Apa Ekonomi Indonesia?

News - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
23 February 2019 14:01
Penjualan Mobil & Semen Turun, Ada Apa Ekonomi Indonesia?
Jakarta, CNBC Indonesia - Nampaknya perlambatan ekonomi global yang dipicu oleh perang dagang Amerika Serikat (AS)-China sejak tahun lalu makin menunjukkan wujudnya di tanah air.

Teranyar, penjualan semen nasional pada bulan Januari yang dipublikasikan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan Asosiasi Semen Indonesia tercatat hanya sebesar 5,62 juta ton, yang mana turun sebesar 1,3% dibandingkan dengan Januari 2018 yang mencapai 5,69 juta ton. Selain itu, turunnya penjualan semen di Januari secara YoY kali ini juga yang pertama sejak 2014.

Bahkan di provinsi Jawa Tengah, penurunan penjualan semen mencapai 9,68% YoY.


Penjualan semen merupakan salah satu indikator penting dalam pembangunan, terutama infrastruktur. Pasalnya, semen merupakan komponen penting dalam kegiatan konstruksi.

Saat penjualan semen melambat, maka pembangunan juga akan ikut melambat.

Dampaknya tak berhenti hanya sampai disitu. Pembangunan infrastruktur merupakan kegiatan yang melibatkan rantai pasokan yang kompleks. Berbagai komponen yang diperlukan untuk membangun sebuah struktur dihasilkan oleh berbagai industri yang berbeda.

Maka bukan tidak mungkin dampak penurunan penjualan semen akan melebar ke sektor-sektor lainnnya.



Selain itu, pada 14 Januari 2019 silam, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) juga mengumumkan angka penjualan mobil periode Januari 2019 yang tak terlalu menggembirakan.

Penjualan mobil sepanjang Januari hanya sebanyak 81.218 unit, yang mana turun 15,36% dibanding periode yang sama tahun 2018 (YoY).

Tak main main, angka turunnya penjualan di Januari tersebut merupakan yang paling parah dalam 10 tahun terakhir.

Sama halnya dengan semen, penjualan mobil juga merupakan salah satu indikator penting dalam pertumbuhan ekonomi. Sebab, insdustri mobil juga digerakkan oleh berbagai industri kecil lain yang saling berhubungan.

Selain itu, pertumbuhan industri mobil juga dapat mencerminkan daya beli masyarakat.



Apalagi, kemarin (22/2/2019) Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo memperkirakan deflasi sebesar 0,07% MtM akan terjadi pada pekan ke-3 Februari 2019 yang didorong oleh harga bahan pangan.

"Deflasi harga pangan, cabai turun 0,07%, daging ayam ras turun 0,06%. Lalu telur turun 0,05%. Harga cabai rawit turun 0,02%. Harga bensin turun 0,07% khususnya karena penurunan BBM non subsidi," ujarnya.

Bila benar seperti itu, maka tingkat inflasi pada Februari akan sebesar 2,58% YoY, yang mana lebih kecil dibandingkan Februari 2018 yang mencapai 3,18% YoY.

Memang, di satu sisi inflasi yang rendah dapat mencerminkan keadaan ekonomi yang stabil dan terkendali.

Namun di sisi lain, juga dapat menjadi indikator daya beli masyarakat yang turun, sehingga harga-harga terpaksa diturunkan.

Dengan begini, pemerintah perlu mewaspadai ketercapaian target pertumbuhan ekonomi yang sudah dipatok di angka 5,3% dalam APBN 2019.



TIM RISET CNBC INDONESIA (taa/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading