Disebut Prabowo Bangkrut, PLN: Memang Mau Tarif Listrik Naik?

News - Gustidha Budiartie, CNBC Indonesia
17 January 2019 12:38
Disebut Prabowo Bangkrut, PLN: Memang Mau Tarif Listrik Naik?
Jakarta, CNBC Indonesia - PT PLN (Persero) buka-bukaan soal kondisi keuangannya, terpicu oleh pernyataan calon pasangan presiden nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga Uno yang menyatakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) banyak yang bangkrut di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Berkali-kali Prabowo menyebut BUMN yang bangkrut, di antaranya adalah PLN, Pertamina, dan Garuda Indonesia. Untuk PLN, sebenarnya apa yang dikatakan oleh Prabowo tidak sepenuhnya keliru juga. Sebab, berdasar laporan keuangan perusahaan setrum negara itu, hingga kuartal III-2018 perseroan tercatat mencetak rugi yang disebabkan oleh kurs hingga Rp 18 triliun.




Namun, dalam paparan di Hotel Mulia Senayan, Rabu (17/1/2019) malam, Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir menjelaskan kondisi perusahaan yang ia pimpin.

Ia menjelaskan PLN adalah BUMN yang memiliki tugas mengutamakan kepentingan rakyat.

"Kalau seluruhnya dikomersialkan yang kena rakyat," katanya.

Dengan kondisi seperti ini di mana bahan baku energi untuk menyalakan pembangkit rata-rata naik dan rupiah melemah, semestinya tarif listrik yang berlaku untuk rumah tangga adalah Rp 1.680 per Kwh, bukan Rp 1.427 seperti saat ini dan sudah tidak naik sejak 2015.


"Kenaikan Rp 1 rupiah per Kwh itu bedanya Rp 18 triliun sampai Rp 20 triliun ke kami, tapi bukan itu yang kami lirik. Kami berhak melakukan tarif adjustment. Kalau seluruh rakyat Indonesia sepakat naik supaya tidak bangkrut, kami naikkan."

Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto juga menegaskan bahwa PLN tidak naikkan tarif listrik sejak 2015. Oleh karena itu, pertumbuhan pelanggan industri sangat bagus karena itu tandanya ekonomi bergerak.

"Kami lakukan efisiensi," kata dia.

Kerugian yang dialami oleh PLN, lanjutnya, juga berupa kerugian kurs. Sebelum ada kerugian kurs, hingga kuartal III-2018 PLN sebenarnya tercatat mencetak laba operasional hingga Rp 9,6 triliun.

"Kurs itu kan pembukuan saja. Sekarang nilai tukar sudah Rp 14.100 per dolar, akhir tahun 2019 semoga baik."

Sofyan pun menegaskan yang dikedepankan oleh PLN adalah masyarakat.

"Bisa saja kita untung, tapi masyarakat belanjanya kurang, maka ganggu pertumbuhan ekonomi."


(gus/prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading