Produsen iPhone Pilih Bangun Pabrik di Vietnam, Kok Bukan RI?

News - Wahyu Daniel, CNBC Indonesia
05 December 2018 12:09
Produsen iPhone Pilih Bangun Pabrik di Vietnam, Kok Bukan RI?
Jakarta, CNBC Indonesia - Meski dikabarkan sudah mereda, namun tidak ada yang berani memastikan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China bakal segera berakhir. Industri di China dikabarkan sudah mulai berencana merelokasi pabriknya ke negara-negara berkembang lain. Tujuannya untuk menghindari tarif impor yang dikenakan oleh Presiden AS, Donald Trump.

Kabar terakhir datang dari Foxconn. Salah satu produsen produk elektronik terbesar di dunia, dan juga pembuat produk Apple asal Taiwan ini, mempertimbangkan untuk membangun pabrik di Vietnam.

Vietnam dan Thailand, disebut Reuters, Rabu (5/12/2018), merupakan dua negara pilihan relokasi bagi industri asal China.



Kenapa tidak dipilih Indonesia?

Kilas balik sedikit. Pada 2012 lalu, pemberitaan di media massa sempat marak diisi oleh rencana Foxconn membangun pabrik di Indonesia. Posisi yang diincar adalah kawasan industri Cikande, Serang. Namun entah mengapa, rencana tersebut kandas di tengah jalan.

Dikutip dari detikFinance, persoalan lahan menjadi isu utama rencana investasi pabrik komponen ponsel mereka di Indonesia.

Foxconn pernah berunding dengan pemerintah pusat untuk diberikan insentif berupa lahan gratis, karena di China, Foxconn mendapatkan insentif tersebut dari pemerintah setempat. Pemerintah juga pernah menjembatani kerja sama Foxconn dengan mitra lokal, salah satunya adalah Agung Sedayu Group.

Perundingan mengenai penyediaaan lahan it‎u tak juga selesai hingga saat ini. Ada juga kabar yang menyebut Foxconn bakal membuka lahan di Cikande, hingga bekerjasama dengan Kawasan Berikat Nusantara, namun lagi-lagi tak terdengar lagi.

Foxconn juga sempat bekerjasama dengan Pemerintah DKI Jakarta. Kala itu, Joko Widodo yang masih menjabat‎ sebagai Gubernur DKI Jakarta sebelum menjadi Presiden Republik Indonesia, sempat mencarikan lahan untuk Foxconn.

Selain itu, Foxconn telah sepakat dengan BlackBerry (RIM) asal Kanada bekerjasama memproduksi telepon seluler pintar (ponsel) di Indonesia. Setelah keduanya mencapai kesepakatan, telepon seluler BlackBerry akan mulai didesain untuk pasar Indonesia.

Pada waktu itu, BlackBerry menyebutkan Foxconn akan membantu untuk mendesain perangkat keras (hardware) ponsel tersebut selama 5 tahun, sesuai dengan kesepakatan. Sedangkan BlackBerry sendiri akan tetap fokus pada pengembangan perangkat lunaknya. Namun semua rencana buyar.

Tim riset CNBC Indonesia sempat membuat tulisan, akankah Indonesia menjadi pemenang atau pecundang di tengah perang dagang?

Dalam riset itu disimpulkan, Vietnam dan Malaysia bakal menang banyak dari perang dagang yang terjadi. Mengapa? Alasannya bisa anda simak di sini.

Thailand juga berpotensi meraup untung terbanyak, bukan Indonesia. Pasalnya, ekspor barang-barang elektronik Negeri Gajah Putih mampu mencapai US$ 35,6 miliar pada tahun 2017, dan telah membangun kekuatan yang besar di industri tersebut sejak lama.

Selain itu, ribetnya proses perizinan di Indonesia juga membuat investor masih enggan berinvestasi di Indonesia. Indonesia menduduki peringkat ke 73 dari 190 negara dalam hal kemudahan berusaha atau Ease of Doing Business (EODB) yang dirilis Bank Dunia (World Bank).

Dalam laporan Doing Business 2019, posisi Indonesia tercatat turun satu peringkat dibandingkan tahun sebelumnya meskipun indeks yang diraih pemerintah naik 1,42 menjadi 67,96. Simak selengkapnya di sini.

Laporan Bank Dunia itu mengatakan, investor masih dibuat merana oleh ribetnya proses ekspor impor. Ketiga, indikator trading across border. Salah satu ukuran yang digunakan World Bank dalam mengukur indikator ini adalah border compliance.



(wed/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading