Jokowi & Pil Pahit yang Harus Ditelan Masyarakat Indonesia

News - Herdaru Purnomo, CNBC Indonesia
26 November 2018 20:15
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggambarkan kondisi ekonomi yang memang penuh dengan tantangan sejak empat tahun ke belakang.
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggambarkan kondisi ekonomi yang memang penuh dengan tantangan sejak empat tahun ke belakang. Masyarakat Indonesia harus menelan sebuah 'pil' pahit agar bisa kuat menghadapi tantangan tersebut.

"Empat tahun lalu harga komoditas anjlok turun. Ada batu bara, kelapa sawit, karet, semua turun. Ekonomi pun posisi turun. Masa booming minerba sudah selesai," kata Jokowi saat berpidato di Metro TV, Senin (26/11/2018).

"Oleh sebab itu tak ada pilihan bagi kita, tak ada pilihan lain bagi ekonomi Indonesia harus berubah kita harus perbaiki fondasi ekonomi," imbuh Jokowi.


Jokowi mengatakan, keinginan darinya adalah mengubah bangsa Indonesia yang awalnya konsumtif menjadi lebih produktif. Jokowi mengibaratkannya sebagai bentuk hijrah masyarakat.
Jokowi & Pil Pahit yang Harus Ditelan Masyarakat IndonesiaFoto: Instagram Jokowi

"Jika kita tidak produktif dan menjadi bangsa efisien akan sangat berat kita berkompetisi dengan negara lain," tutur Presiden.

"Memang kadang-kadang apa yang kita kerjakan hasilnya tak instan. Tak bisa kita nikmati langsung, itulah pil. Kadang pahit, sakit, tapi kita harus minum itu agar kita bisa jadi bangsa yang sehat, produktif, kompetitif dan efisien," papar Jokowi.

Untuk itu, Jokowi mengatakan hijrah tersebut upayanya dengan mengubah struktur fiskal. Dari APBN yang men-support penuh BBM Subsidi menjadi pembangunan infrastruktur.

"Kalau kita lihat persentasenya subsidi itu 82% justru dinikmati kalangan atas inilah yang di 2014 kita pangkas kita alihkan ke kegiatan produktif. Infrastruktur, pelabuhan, tol, airport. Dan ini kita mulai bangun Pembangkit Listrik orientasi kita bukan Jawa-sentris tapi Indonesia-sentris," papar Jokowi.


(roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading